Thursday, November 27, 2008

Monday, November 17, 2008

Partai, ... jalan untuk menuju istana!!!

Gatal euy pengin nulis lagi.
Saat ini mulai persiapan menuju pesta demokrasi tahun 2009. Sudah banyak partai maupun individu yang 'go public', agar sesegera mungkin dikenal masyarakat, dengan harapan akan partisipasi mereka untuk memilih partai atau individu tersebut. Yang individunya, baik yang mau jadi eksekutif maupun legislatif.
Dengan dikeluarkannya daftar caleg masing2 partai, dipinggir jalan bertebaran promosi, Saya si Fulan dari partai ANU, nomor pilihan SEKIAN, Daerah pilihan INI SEKIAN, didukung oleh atasan/ ketua partai Bapak ITU Yth., kira2 begitu bunyinya.
Pertanyaan saya paling cepat muncul dalam benak, adalah "Apa yang dibawa si Fulan tsb untuk membuat daerah INI SEKIAN menjadi punya nilai lebih?"
Semua memang punya motto dan jargon, tapi apakah cukup amunisi itu saja yang dibutuhkan untuk membuat daerah lebih maju? Jawabannya semua orang pasti tahu.
Nah yang cukup membuat prihatin adalah gejala ini juga terjadi untuk pemilihan RI-1. Coba kita list beberapa nama yang sudah mulai unjuk gigi bahwa beliaunya akan mencalonkan diri sebagai RI-1 : Megawati SP, SBY, Rizal M, Sutrisno B, Wiranto, Prabowo, dll.
Kira2 apa perbedaan diantara mereka yang dibawa sebagai "sangu" (bekal) maju jadi Capres. Kalo menurut saya mereka itu membawa hal yang sama, yaitu memberantas kemiskinan, membuka lapangan pekerjaan, menggratiskan pendidikan, dan memurahkan kesehatan. Terus kalo semuanya sama, kita harus pilih siapa? Jadi bingung euy ...
Kalo di Amerika Serikat, calon presiden bener2 mempunyai visi dan misi yang sangat berlainan, sehingga pemilih benar2 menetapkan pilihan berdasarkan ketetapan, keman negara itu mau dibawa. Nah kalo disini .... (geleng2 kepala).
Pertanyaan lain yang muncul adalah, "Kalo mereka punya platform yang sama, kenapa tidak koalisi aja, pilih satu orang yang paling mumpuni?" Toh siapapun yang jadi presiden, apa yang dimaui sudah di adop untuk dilaksanakan. Untuk apa lagi ngotot? (begitu pikiran sederhana saya).
Jadi kesimpulannya, bukan visi/misi yang membuat seseorang menjadi RI-1, tapi partailah yang dibawa, sehingga konsekuensinya, ketika memimpin jelas masih dalam bayang2 partai. Apakah ini salah?, sikap ini sebenarnya mnusiawi banget, yang salah adalah sistem yang berjalan yang membuat jalan ini memungkinkan.