Thursday, May 11, 2006

GAMBARAN KERAGAMAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MADUKORO

GAMBARAN KERAGAMAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT MADUKORO



1. Lokasi Masyarakat dan Corak desa

Madukoro adalah sebuah desa berdataran rendah, dibagian barat daya keresidenan Madiun dan dibagian timur Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Secara geografis dan cultural, Madukoro juga dekat dengan Jawa Tengah kira-kira 180 km sebelah barat Surabaya, dan 90 km sebelah timur kota Solo, salah satu kebudayaan Jawa. Madukoro adalah satu dari 20 desa di kecamatan Tekeran yang didominasi para petani muslim Jawa. Jarak dari desa ke kantor kecamatan kira-kira 5 kilo meter. Madukoro bukan desa terpencil, karena banyak jalur lalu lintas yang menghubungkanya dengan kampung-kampung lain ke kota. Kota terdekat dari Madukoro adalah Madiun, secara histories Madiun adalah sebuah kota yang banyak diwarnai oleh warga desa Madukoro, namun secara administratif ia adalah bagian dari kabupaten Magetan yang terletak diluar Madiun.
Desa Madukoro terbentuk dari empat dusun, dua dusun terletak di daerah dengan tanah yang relatif tinggi, yang juga disebut dusun dataran tinggi. Di dusun itulah semua anggota non jama’ah tinggal sementara dua dusun lainya terletak didataran rendah, di dua dusun inilah kebanyakan anggota jama’ah berdomisili.
Jumlah penduduknya mencapai kira-kira 4.568. Terdiri dari 849 kepala keluarga. Data yang terkumpul di kantor desa Madukoro memperlihatkan distribusi penduduk untuk masing-masing dusun. Rata-rata kepadatan penduduk pada dusun dataran tinggi 1687 per km2, lebih tinggi dari dusun dataran rendah 1590 per km2. Kepala keluarga Madukoro dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yaitu keluarga inti (terdiri dari sepasang suami istri dan anak-anak mereka) dan keluarga besar (satu unit keluarga yang terbentuk melalui anggauta keluarga baik dari keluarga inti atau bukan). Di Madukoro pasangan suami istri ada yang ikut mertua atau orang tua, bukannya mereka tidak mampu untuk membentuk keluarga sendiri, akan tetapi lebih karena mereka ingin merawat kedua orang tua mereka, sudah lazim di desa bila pasangan suami istri tinggal dirumah orang tua atau mertua mereka dan disebut mbangkoni (menjaga rumah dan merawat orang tua), jika tidak ada pasangan nikah mbangkoni, orang tua akan pindah ke salah satu rumah anak mereka, di desanya atau didesa lain, ada juga yang pasangan suami istri masih ikut kakek nenek mereka, ringkasnya sifat keluarga besar cenderung berubah-ubah.
Generasi muda di Madukoro jumlahnya tinggi, ini menunjukkan kurangnya komitmen masyarakat untuk membatasi jumlah keluarganya dengan 2 anak, pemerintah orde baru telah melaksanakan program Keluarga Berencana (KB) secara intensif sejak akhir 1970-an. Menurut pamong desa telah banyak usaha untuk mempengaruhi masyarakat, kebanyakan mereka menentang program tersebut karena alasan pandangan budaya tradisional bahwa “banyak anak banyak rezeki”.Beberapa hambatan lainya adalah teguhnya pendirian masyarakat desa terhadap pandangan agama yang mereka anut seperti (1) Allah telah menentukan rezeki setiap orang sejak sebelum lahir, (2) mengendalikan kelahiran bertentangan dengan syari’ah Islam, karena manusia harus menerima anak sebagai amanah tuhan dan (3) pemakaian kontrasepsi modern seperti sepiral, haram hukumnya menurut syari’ah islam, karena aurat manausia akan terlihat, setidaknya oleh petugas yang memasukkan alat kontrasepsi itu. Pemerintah bersaha untuk mengataasi hambatan budaya ini mendekatai masyarakat secara persuasif melalui dalil-dalil agama, bahwa Islam tidak melarang KB, juga melibatkan beberapa ulama, pemerintah desa telah memaksa setiap pasangan baru nikah dan pasangan subur untuk memilih KB, jika mereka tidak memiliki kartu maka akan dipersulit jika berurusan dengan pemerintah desa, dan usaha ini tampaknya relatif berhasil dengan baik.
Sekarang situasinya telah berubah karena kebanggaan orang tua tidak terletak pada banyaknya jumlah anak, kebanyakan pasangan baru membatasi jumlah anak mereka sekitar 3 orang, karena mereka berfikir, mungkin untuk keperluan pangan mereka tetapi tidak cukup dana untuk membiayai sekolah anak mereka


2. Persepsi umum masyarakat terhadap pemerintah

Dalam konteks social ekonomi, masyarakat dipedesaan sama-sama hidup dalam kemiskinan. Hal ini tampak pada waktu makan, khususnya orde lama, karena pembangunan di masa orde lama tidak pernah ada para petani sering kali bertahan hidup hanya dengan memakan gaplek dan jagung dengan campuran nasi seadanya, karena lahan pertanian desa tidak dapat ditanami dengan padi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Untuk menghindari kebosanan makan kanji mereka menambah mekanan dengan sedikit ikan asin, acar tempe dan tahu, jika mereka mendapat beberapa telor unggas mereka menukarnya dengan jagung dan singkong sedangkan ikan dan ayam hanya untuk perayaan-perayaan tertentu. Kemiskinan desa ini lebih nyata terjadi pada 1960-an, khususnya 1963 sampai 1965 ketika PKI berkuasa di desa, pada waktu itu masyarakat hanya mengkonsumsi bubur selama beberapa tahun, bahkan ada yang hanya memakan bonggol pisang dan ampas tahu, yang biasa dipakai untuk makan ternak sapi.
Kesulitan ekonomi di Madukoro kadang diperburuk lagi oleh ancaman banjir besar karena madukoro terletak di pertemuan dua sungai besar, sungai Madiun dan sungai Gandong kadang-kasang merusak jaringan transportasi dan menghanyutkan hasil panen, dan kondisi ini berjalan cukup lama.
Dengan adanya kondisi seperti ini maka dimanfaatkan oleh PKI untuk memperoleh dukungan massa, beberapa petani miskin di desa telah terpengaruh dan menjdi pendukung PKI, mereka umunya menjadi pendukung BTI (Barisan Tani Indonesia) Gerwani(Gerakan Wanita Indonesia), Lekra (Lembaga Seni Rakyat) dan IPPI(Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), tetapi tidak semua orang miskin di desa menjadi pendukung PKI. Secara umum PKI di desa hanya diterima oleh selain anggota jamaah di dataran tinggi, atau komunitas muslim nominal.
Pertumbuhan social ekonomi didesa ini berangsur-angsur membaik terjadi pada era rezim orde baru. Pemerintah memelalui aparat desa juga menawarkan transmigrasi yang tidak hanya kle luar jawa, tetapi juga ke desa tetangga yaitu desa kerang dengan system bedol desa kepada penduduk di dataran rendah untuk menghindari banjir yang sering terjadi, tetapi penduduk menolaknya, mereka lebih senang menempati tanah kelahiranya , apapun yang terjadi. Dan desa kerang desa yang minus, tidak subur dan merupakan daerah abangan (non jama’ah) dan daerah bekas komunis, karena mereka merasa dirinya adalah anggota jama’ah. Mereka adalah pendukung partai Islam (bahwa pada masa lalu desa ini terdapat pemilahan tajam antara Partai Islam dengan PKI, ketika para PKI membunuh para pemimpin jama’ah 1948, dan ketika anggota jama’ah ganti membunuh para pendukung PKI 1965. Pemerintah pun menyadari dan tidak akan memaksa penduduk desa untuk transmigrasi lagi dan sebagai jalan keluarnya pemerintah daerah akhirnya membangun tanggul sungai Gandong dan meninggikan jalan di dusun dataran rendah dan proyek tersebut disebut dengan padat karya, dan sejak itu banjir tidak pernah lagi melanda, dan pembangunanpun semakin mulai berkembang mulai dari pembangunan transportasi, sampai kepada listrik masuk desa. Sumbangan pemerintah di orde baru tersebut meningkatkan citra pemerintah dimata penduduk.

3. Stratifikasi petani desa

Secara umum pekerjaan masyarakat madukoro adalah petani. Pembagian tanah didesa secara umum ada 3 kategori yaitu sawah (sebidanga tanah untuk menanam padi dan sayuran), tegalan (tanah yang dipakai untuk menanami jenis tanaman yang lama masa tanamnya, seperti kelapa jeruk dll ) dan pekarangan (tanah tegalan yang dekat atau disekitar rumah penduduk). Secara tradisional ada perbedaan petani yaiu kuli kenceng (petani yang mempunyai sawah, tegalan atau pekarangan), dan kuli kenceng biasanya di istimewakan di desa salah satu contoh diberi kedudukan di aparat pemerintahan desa, yang kedua kuli kendo petani “rendah” yang tidak memiliki sawah dan rata-rata mereka yang mempunyai uang mereka menyewa kuli kenceng, dan apabila tidak memiliki uang maka mereka disebut dengan buruh, dan kuli kendo tidak mempunyai hak untuk menjadi anggota kumpulan desa, mereka bisa menghadiri setiap perkumpulan tapi tidak punya hak untuk bicara, jika punya gagasan hanya mampu menyampaikan lewat kuli kenceng. Namun sejak orde baru berkuasaa tradisi ini berubah, semua pamong desa langsung diangkat oleh pemerintah. Dan jumlah buruh lebih banyak di dataran tinggi daripada di dataran rendah dari persepektif kelas, kebanyakan orang yang tinggal di dataran rendah semuanya adalah anggota jama’ah lebih kaya dari kelompok non jama’ah yang tinggal di dataran tinggi.
Dewasa ini kuli kenceng tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya kelas tertinggi di desa, sekarang ini seorang kuli kendo yang berhasil menjadi guru, anggota militer sangat dihormati di desa dan tentunya mereka sangat berkuasa dibanding dengan kuli kenceng atau petani biasa. Di Madukoro untuk memenuhi kebutuhan utamanya mereka tidak tergantung dari satu pekerjaan, penduduk desa ada yang bekerja ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, ke luar pulau bahkan ada yang sampai ke luar negeri, dan mereka mengirimkan hasilnya ke keluarga mereka di rumah, dan uang kiriman itu mampu meningkatkan kualitas hidup mereka.

4. Keselarasan yang rapuh

Ditingkat permukaan kelihatan bahwa kondisi desa sangat homogen. Dapat dilihat dari bahasa yang dipakai, yaitu bahasa Jawa, Agama yang mayoritas dianut, yaitu Islam, komunikasi dan interaksi yang akrab, dan juga tradisi gotong-royong untuk setiap kegiatan desa. Misalnya untuk pelaksanaan ronda, peringatan 17 Agustus, anak-anak sekolah yang berangkat dan pulang bersama, serta kekompakan dalan organisasi desa semacam KUD, LKMD, dan lain-lain.
Tetapi apa yang ada dibalik permukaan kehidupan sehari-hari tidak dapat dabaikan begitu saja. Keberagaman dan kompleksitas hubungan antar warga tidak jarang dapat menjadi sumber ketidakharmonisan kehidupan desa.Ditingkat paling bawah terdapat berbagai perpecahan social, budaya dan agama. Dalam perspektif aliran terdapat dua kelompok utama, yang pertama adalah kelompok muslim abangan atau kejawen, yang mana mereka menganggap dirinya musim yang awam, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok muslim taat, mereka adalah kelompok yang melaksanakan agama secara patuh, mulai dari ibadah wajib maupun peringatan hari besar agama.
Lebih jauh lagi mengenai kelompok muslim abangan, biasa kalau ada pesta yang dijadikan hiburan adalah kebudayaa Jawa, semisal Ketoprak, Ludruk, Wayang kulit, reog, gambyong, kledek dan uyon-uyon. Sebagaian besar mereka tinggal di dataran tinggi. Untuk menyekolahkan anak mereka, juga di sekolah negeri yang dibangunkan oleh pemerintah. Sedangakan Kelompok muslim taat, kalau ada pesta hiburannya biasanya berupa diba’an, jedoran, terbangan, gambusan, kasidah, dan samroh atau kesenian lain yang biasa disebut “kesenian Islam”. Untuk sekolah, karena telah dibangunkan madrasah di dataran rendah, maka anak-anak mereka semua sekolah di madrasah ini.
Pembagian di atas merupakan sumber konflik yang paling penting di desa Madukoro. Pembunuhan massal antar kelompok ini pada saat peristiwa pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965 adalah gambaran kongkret kehidupan desa yang tidak harmonis. Pemerintah yang berkentingan untuk membentuk kondisi yang lebih kondusif di desa ini berusaha untuk membangun kekuatan sebagai pemersatu. Dibentuknya koramil sebagai monitor dan pengarah politik di desa berguna untuk mempertahankan stabilitas desa.




Disarikan dari


Anatomi konflik politik di Indonesia, Belajar dari ketegangan politik di Madukoro, oleh Dr. Imam Tholkhah, M.,M.Let. dihantar oleh: Prof. Dr. Azumardi Azra, M.A., M.Phil.
Rajawali Pers Citra Niaga Buku Perguruan Tinggi J A K A R T A.

No comments: