Thursday, June 28, 2007

Kecerdasan vs Ketrampilan

Ceritanya begini, Si A yang saat kuliah ber IPK rendah, merasa IPK tinggi tidak diperlukan di dunia kerja, tapi ketrampilanlah yang menentukan. Si A mengambil contoh Si B yang ber IPK tinggi, saat masuk kerja pertama kali terlihat bloon dan tidak bisa kerja, sementara si A yang ber IPk rendah langsung bisa tune in dengan kerjaan. Alasan kenapa si A ber IPK rendah, karena saat kuliah dia tidak hanya mikirin pelajaran saja, tetapi dia banyak bergaul dengan orang-orang praktisi, sehingga biarpun IPK-nya rendah tetapi dia sudah punya bekal ketrampilan yang langsung tune in dengan pekerjaan.
Nah benarkah IPK tinggi tidak begitu dibutuhkan saat kerja? Bukankah kita selalu melihat bahwa IPK dijadikan tolok ukur suatu perusahaan untuk menerima karyawannya?
Menurut saya, memang tolok ukur terdefinisi yang paling mudah untuk menerima fresh graduate adalah IPK, karena IPK menunjukan bahwa orang tersebut ketika mengerjakan sesuatu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan all out. Hal ini terbukti dengan nilai yang diperolehnya tinggi. Sehingga saat memasuki dunia kerja, memang kemungkinan untuk pertama kalinya apa yang diperoleh dari kuliah tidak bisa diterapkan begitu saja, tetapi dengan kesungguhan dan all out-nya pasti akan membantu dia untuk memahami posisi dan sikon di lingkungan kerja.

Bersambung ......

Friday, June 15, 2007

Bagaimana menghadapi masalah?

Dalam kehidupan, orang tidak akan pernah lepas dari suatu masalah, yang sudah tidak mempunyai masalah lagi adalah orang yang sudah meninggal. Jadi dalam hal ini kehidupan itu sendiri adalah suatu masalah.
Dalam filosofi Jawa, dalam menghadapi masalah ini kita dapat menrapkan 2 hal untuk dapat mengatasinya.
Yang pertama kita harus tatag, teteg, titis, titen. Arti kata satu persatu adalah sebagai berikut :
  • tatag, berarti ketika mendapat masalah kita harus berani menghadapinya, tidak menghindarinya. Yang terpenting adalah berusaha untuk menyelesaikannya.
  • teteg, berarti kita harus tabah menjalaninya, agar ketika kita menyelesaikan masalah tersebut tidak berdasrkan emosi sesaat, saja, tapi benar-benar merupakan solusi yang paling pas untuk masalah tersebut.
  • titis, artinya menyelesaikan masalah langsung pada permasalahannya, tidak seperti pepatah "mau menangkap tikus dengan cara membakar rumah". Jadi seperti menangkap ikan tetapi air tidak keruh.
  • titen, berarti kita harus temu kenali masalah dengan baik, jangan-jangan kita merasa masalah sudah selesai, tapi yang sebenarnya masih belum tuntas.
Yang kedua adalah rereh- ririh, yang berarti adalah sebagai berikut :
  • rereh, berarti menerima dan menyelesaikan masalah dengan hati yang tenang dan sabar, agar tidak terburu napsu.
  • ririh, berati menyelesaikan masalah tidak terburu-buru, tapi pasti. Dalam filosofi Jawa yang lain disebutkan "alon-alon waton kelakon" (pelan-pelan asal selamat).
Demikian tulisan ini semoga bisa membantu.

Tuesday, June 12, 2007

Sikap Pemimpin

Pemimpin disini adalah orang yang menjalankan fungsi sebagai penggerak, pemrakarsa, dan motivator dalam suatu kelompok yang terdiri lebih dari 2 orang.
Ki Hajar Dewantoro menyatakan, apa saja kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu :
  1. Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya bahwa seorang pemimpin itu harus bisa memberi contoh dan akan dicontoh oleh orang-orang yang dipimpinnya. Kalau dalam sistem management modern, kita mengenal adanya sikap top to down.
  2. Ing Madyo Mangun Karso, artinya bahwa pemimpin harus berani ikut turun di lapangan untuk membangkitkan semangat orang-orang yang dipimpinnya. Dengan melihat bahwa ternyata seorang pemmimpin mau ikut terjun ke lapangan, maka ini akan memberikan sense yang lebih kepada orang yang dipimpin.
  3. Tut Wuri Handayani, artinya bahwa pemimpin harus mengawasi pekerjaan orang-orang yang dipimpinnya untuk memberikan dorongan dan motivasi yang lebih untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Dalam sistem management modern kita mengenal adanya sikap bottom to up.
Dalam suatu pekerjaan yang sedang ditangani oleh kelompok tersebut, pemimpin harus pas dalam menerapkan apa yang akan dilakukan, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Jadi kunci dari sikap kepemimpinan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro diatas adalah bagaimana membaca situasi dan kondisi yang sedang berlangsung, bahkan kalau memungkinkan bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan melihat situasi dan kondisi yang sekarang.