Monday, March 12, 2007

Debug on Perl script

Debugging your PERL script

If you invoke perl with a -d switch, your script will be run under a debugging monitor. It will halt before the first executable statement and ask you for a command, such as:

h
Prints out a help message.

T
Stack trace.

s
Single step. Executes until it reaches the beginning of another statement.

n
Next. Executes over subroutine calls, until it reaches the beginning of the next statement.

f
Finish. Executes statements until it has finished the current subroutine.

c
Continue. Executes until the next breakpoint is reached.

c line
Continue to the specified line. Inserts a one-time-only breakpoint at the specified line.

">
Repeat last n or s.

l min+incr
List incr+1 lines starting at min. If min is omitted, starts where last listing left off. If incr is omitted, previous value of incr is used.

l min-max
List lines in the indicated range.

l line
List just the indicated line.

l
List next window.

-
List previous window.

w line
List window around line.

l subname
List subroutine. If it's a long subroutine it just lists the beginning. Use "l" to list more.

/pattern/
Regular expression search forward for pattern; the final / is optional.

?pattern?
Regular expression search backward for pattern; the final ? is optional.

L
List lines that have breakpoints or actions.

S
Lists the names of all subroutines.

t
Toggle trace mode on or off.

b line condition
Set a breakpoint. If line is omitted, sets a breakpoint on the line that is about to be executed. If a condition is specified, it is evaluated each time the statement is reached and a breakpoint is taken only if the condition is true. Breakpoints may only be set on lines that begin an executable statement.

b subname condition
Set breakpoint at first executable line of subroutine.

d line
Delete breakpoint. If line is omitted, deletes the breakpoint on the line that is about to be executed.

D
Delete all breakpoints.

a line command
Set an action for line. A multi-line command may be entered by backslashing the newlines.

A
Delete all line actions.

< command
Set an action to happen before every debugger prompt. A multi-line command may be entered by backslashing the newlines.

" command="">> command
Set an action to happen after the prompt when you've just given a command to return to executing the script. A multi-line command may be entered by backslashing the newlines.

V package
List all variables in package. Default is main package.

! number
Redo a debugging command. If number is omitted, redoes the previous command.

! -number
Redo the command that was that many commands ago.

H -number
Display last n commands. Only commands longer than one character are listed. If number is omitted, lists them all.

q or ^D
Quit.

command
Execute command as a perl statement. A missing semicolon will be supplied.

p expr
Same as "print DB'OUT expr". The DB'OUT filehandle is opened to /dev/tty, regardless of where STDOUT may be redirected to.

If you want to modify the debugger, copy perldb.pl from the perl library to your current directory and modify it as necessary. (You'll also have to put -I. on your command line.) You can do some customization by setting up a .perldb file which contains initialization code. For instance, you could make aliases like these:

 $DB'alias{'len'} = 's/^len(.*)/p length($1)/';
$DB'alias{'stop'} = 's/^stop (at|in)/b/';
$DB'alias{'.'} =
's/^\./p "\$DB\'sub(\$DB\'line):\t",\$DB\'line[\$DB\'line]/';

BAU DEMOKRASI

BAU DEMOKRASI
------------

----------------------------------------------

Bau yang keluar dari mulut saya ini, kata-kata yang terungkap dari bibir saya ini, ungkapan yang nongol dari cocor saya ini, terkadang busuk terkadang wangi. Itu karena yang keluar memang asli busuk atau asli wangi. Atau terkadang tergantung kondisi mulut saya sendiri. Mungkin kata-kata saya busuk, tapi karena mulut saya wangi, maka keluarnya wangi. Atau kata-kata saya wangi, namun karena mulut saya busuk, maka produknya busuk juga.
Nah, tolong jangan lupa di saat lain wangi busuknya segala yang keluar dari mulut saya tergantung pada situasi hidung Anda. Mungkin yang ungkapkan busuk, tapi karena lubang hidung Anda ada parfumnya, maka terasa wangi. Atau sebaliknya, yang saya ungkapkan wangi, tapi karena hidung Anda ketempelan bau busuk -- misalnya karena Anda selalu sibuk mengurusi ayam-ayam di kandang -- maka kata-kata saya menjadi terasa busuk pula.
Tapi itulah resiko demokrasi. Itulah kemungkinan-kemungkinan bau demokrasi. (EAN/1999)

Riwayat Prangko

fwd from PIkiran Rakyat, Selasa, 20 Februari 2007
Riwayat Prangko
Oleh ERIYANTI NURMALA DEWI

INI sebuah cerita di balik prangko. Tahun 2005 Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) merencanakan akan menerbitkan prangko seri zodiak pada 2007. Namun waktu itu belum ditentukan, prangko seri zodiak apa yang akan dicetak. Baru September 2006, Ditjen Postel menetapkan bahwa prangko seri zodiak yang akan dicetak adalah seri "12 Shio". Dengan mengambil momen Februari 2007 bersamaan dengan peringatan Imlek.
Hunting pun mulai dilakukan. Sejumlah narasumber dilibatkan, seperti Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Suhu Bingo (Konsultan Fengshui dari Surabaya), Bidang Budaya dari Kementerian Informasi dan Komunikasi (Menkominfo)

, dan para filatelis Tionghoa maupun pribumi, termasuk beberapa desainer yang akan memvisualisasikan kedua belas shio.
Desain awal prangko pun selesai dibuat. Desain ini mulai dipajang pada pameran dan kongres nasional lima tahunan Perhimpunan Filatelis Indonesia (PFI) yang diselenggarakan Desember 2006 di Bandung. Namun apa yang terjadi? Menuai kontroversi!
Sebagian peserta kongres tidak setuju dengan contoh prangko shio ini. Beberapa dari mereka mulai menyebar bisik-bisiknya kepada peserta lain sehingga angin penolakan pun berembus sampai dibawa ke daerah pascakongres. Beberapa daerah yang tidak setuju mengipas-ngipas daerah lain. Tak ayal, milis PFI pun riuh dengan pro-kontra ini. SMS panas bersliweran. Bahkan, loket-loket di sejumlah Kantor Pos pun dipenuhi surat-surat bernada sama.
Nada surat itu bukan lagi tidak bersetuju, tetapi mengancam. Alasannya sudah dapat ditebak. Mereka mempertanyakan, "Kenapa mesti Cina?", "Kenapa mesti yang minoritas yang diprioritaskan?", "Kenapa mesti gambar babi?", "Kenapa tidak umat lain yang lebih mayoritas", dst.
Padahal fungsi prangko, menurut Kasi Faliteli Abdussyukur, antara lain, untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Indonesia dan dunia. Prangko juga disebut sebagai pencatat sejarah (karena mengabadikan peristiwa-peristiwa penting). Seperti prangko peringatan 50 tahun KAA. Bahkan, prangko juga berfungsi untuk mempererat hubungan antarnegara (melalui penerbitan prangko bersama).
Jika persoalannya Muslim dan non-Muslim, hampir setiap tahun PT Pos menerbitkan prangko seri MTQ, seri gambar masjid (mulai dari Masjid Istiqlal sampai Masjid Besar di Aceh). Bukan itu saja, prangko seri ibadah haji juga pernah diterbitkan, termasuk prangko seri Hari Raya Islam yang diterbitkan Ramadan tahun lalu (2006). Sementara untuk prangko seri agama lain, PT Pos pernah menerbitkan prangko bergambar Kathedral Jakarta.
Namun, bila persoalannya minoritas, bagaimana dengan jumlah penduduk Tinghoa di Indonesia yang saat ini sekira 5 juta dari sekira 220 juta penduduk Indonesia. Selain itu, dasar hukum dan perundang-undangan yang pernah dan sudah diberlakukan di Indonesia pun tidak lagi mempertentangkan minoritas dan mayoritas. Mari kita simak (lagi) beberapa produk hukum dan perundang-undangan yang berkaitan dengan minoritas-mayoritas itu. Pada tanggal 19 September 1998, pemerintahan B.J. Habibie pernah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 26 Tahun 1998 tentang penghentian penggunaan istilah pri dan nonpri dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan atau pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.
Tahun 2000, pemerintahan Gusdur mengeluarkan Keppres No. 6 Tahun 2000 tentang pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967 tentang pelarangan perayaan dan upacara keagamaan Tionghoa di muka umum. Pada tahun 2002, Megawati Soekarno Putri mengeluarkan Keppres No. 19 Tahun 2002 tentang penetapan Imlek sebagai hari libur nasional.
Tahun 2006, pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang menggantikan UU Nomor 62 Tahun 1958 yang mengacu Staadblad 1910-296 warisan kolonial Belanda. Lalu, mengapa penerbitan prangko seri shio masih harus dipertentangkan?
Setelah melalui dialog cukup panjang dan mengundang semua pihak yang terlibat, termasuk perwakilan yang tidak bersetuju, akhirnya PT Pos selaku pelaksana kebijakan Ditjen Postel mengambil jalan tengah.
Gambar babi yang semula identik dengan babi hutan yang sangar, diganti dengan seekor babi yang penuh ornamen. Begitu pula dengan gambar macam yang siap menerkam, diganti dengan gambar macam yang lebih natural.
Gambar babi yang semula ditempatkan di bagian tengah kemasan prangko, diganti dengan pilar (arsitektur gerbang Cina), dan tidak ada lagi penamaan prangko Imlek karena prangko itu sudah dimusnahkan. Ditjen Postel menetapkan, prangko seri ini dinamai prangko seri zodiak "12 Shio" yang sudah disesuaikan.
Kondisi yang hampir sama sebenarnya pernah terjadi pada 1996. Manakala PT Pos menerbitkan prangko "ASEAN Filateli Exhibition" yang diselenggarakan di Beijing. Pada waktu itu, menurut Abdussyukur, PT Pos harus mengejar izin khusus, mengingat dalam penerbitan seri tersebut PT Pos harus mencantumkan aksara Cina sebagai nama event.
Meski peristiwa itu terjadi 11 tahun silam dan kini ketika perangkat hukum dan perundangan sudah dibuat dan ditetapkan pemerintah, ternyata tidak mudah melaksanakan pembauran di Indonesia. Penerbitan prangko seri "12 Shio" notabene merupakan bukti perjalanan panjang sebuah kerja budaya yang mencoba mengakomodasikan semua kepentingan.
Semacam semangat yang mengibarkan bahwa segala perdebatan diskriminatif dan konflik tentang asli-tak asli, mayoritas-minoritas, harus segera dihapuskan dari wacana kewarganegaraan di negeri ini karena semua itu hanya akan menjadi perdebatan yang sia-sia. Bukankah bangsa membangun butuh jiwa yang membangun? Lagi pula, siapa yang mau terlahir sebagai Cina, Sunda, Batak, ataupun Ambon, ataupun.... ***
Penulis, wartawan Pikiran Rakyat.

YANG MANA YANG JANTAN

YANG MANA YANG JANTAN

------------

----------------------------------------------

Saya dipercayai oleh kumpulan koperasi orang sedesa untuk memutar atau meniagakan uang yang mereka kumpulkan, agar menghasilkan laba yang bisa menambah daya ekonomi para warga koperasi dan seluruh penduduk desa. Tapi setelah sekian lama managemennya saya pegang, ternyata akhirnya bangkrut, sehingga kami semua dililit hutang dan terpaksa mengemis-ngemis lagi cari utangan yang baru. Saya ingin bersikap jantan, tapi saya bingung yang bagaimana yang disebut jantan.

Apakah saya harus berkata: "Para anggota koperasi dan warga desa sekalian, kalau saya melepaskan hak atas managemen ini gara-gara bangkrut, berarti saya tinggal gelanggang colong playu, alias saya lari dari tanggung jawab". Ataukah saya harus berkata: "Saudara-saudara sekalian, sebagai bentuk tanggung jawab saya atas kebangkrutan kita, maka dengan ini saya mengundurkan diri, mengembalikan hak yang saudara-saudara amanatkan, dan sekarang saya pasrah mau diapakan saja oleh saudara-saudara..."

PAHLAWAN SEJATI

PAHLAWAN SEJATI
------------

----------------------------------------------

Kepada seorang Ibu sederhana di sebuah dusun, yang pekerjaannya mencintai dan menemani wong cilik di desanya sepanjang hidup, saya mengajukan pertanyaan yang agak muluk: "Bu, siapakah pahlawan sejati?"

Ia menjawab: "Pahlawan sejati ialah orang yang berani omong tentang perjuangan sosial dan membela rakyat hanya sesudah ia sendiri sanggup bertanggung jawab secara mandiri atas perutnya sendiri. Pahlawan sejati ialah orang yang membela rakyat dengan kekuatan dan uang pribadinya, bukan dengan dana dari luar yang apalagi ia sendiri diupah untuk apa yang diperjuangkannya. Tapi yang terpenting adalah bahwa pahlawan sejati tidak pernah sempat menganggap dirinya pahlawan bahkan tidak punya waktu untuk mengingat kata pahlawan".

Saya bereaksi: "Waduh, Bu, kok berat dan muluk sekali syarat untuk menjadi pahlawan sejati?" Ibu itu menjawab lagi: "Memang berat dan muluk. Maka tidak akan berminat. Maka tidak populer dan tidak dipakai. Kalau ada yang memakainya, mungkin malah dikutuk, dirasani dan difitnah di mana-mana..."

Pertanian di Sawah, Sebuah Antiklimaks?

fwd from KOMPAS, Senin, 19 Februari 2007

Pertanian di Sawah, Sebuah Antiklimaks?
Sjamsoe’oed Sadjad


Kalau saya katakan sebagai "pemberontakan" petani padi sawah, bisa-bisa marah karena membesar-besarkan masalah. Lebih aman disebut "kejengkelan" petani sajalah.
Siapa yang tidak jengkel, merasa sudah bekerja berat di sawah, hasilnya harus dijual murah kalau dibandingkan dengan harga barang yang lain. Harga bahan bakar minyak bisa naik 100 persen lebih, gabah petani hanya naik berapa persen. Itu pun kalau tidak turun malah.
Jengkel kepada siapa? Kepada pemerintah? Untuk apa? Tepatnya, jengkel kepada dirinya sendiri, ya petani sendiri. Akhirnya petani mencari jalan keluarnya sendiri.
Pupuk mahal, ya jangan beli pupuk. Pestisida mahal, ya jangan dibeli. Benih mahal, ya kurangi saja kebutuhan benih. Hebat, bukan? Petani bisa memenuhi seruan Menko Perekonomian yang dulu, bukan? Elpiji mahal, ya jangan beli. Minyak tanah mahal, ya ganti kayu bakar, dan seterusnya; sampai- sampai "susah bensin, ya jalan kaki" (jangan coba-coba disingkat, lho!).
Kebetulan ada yang memelopori gagasan pertanian organik dengan dalih memelihara tanah tetap sehat. Demikian juga mengetahui produk-produk pertanian organik di pasar bisa mendapat harga lebih tinggi, apalagi kalangan pengairan PU menyemarakkan hemat air di sawah padi, petani di sebuah desa yang relatif penghidupannya sudah mapan, lalu bersedia bereksperimen.
Keinginannya besar, seperti menciptakan pupuk organik cair, mempercepat busuknya sampah di sekitar rumahnya yang dilempar ke sawahnya, menanggulangi hama dengan pestisida buatan sendiri, mendorong musuh hama untuk berkembang di sawahnya sehingga bisa mengalahkan hama yang menyerang padi, menggunakan benih seminim mungkin.
Pendek kata, serba emoh terhadap barang pabrik serba inorganik yang harus dibelinya. Hebatnya lagi, lalu dianggapnya semua itu hanya menjadikan mereka-mereka lebih kaya lagi, sedangkan petani di desa tetap seperti begitu-begitu saja.
Mereka lalu mengatakan kembali ke "benih organik" yang tidak lain varietas-varietas lokal seperti padi rojolele, dan lain-lain. Kontras sekali dengan varietas-varietas padi modern yang berpotensi produksi tinggi dengan input pupuk yang tinggi seperti selama ini dianjurkan oleh agropolitik pemerintah demi mencapai kecukupan beras untuk mengamankan situasi pangan kita secara makronasional.
Memang menggembirakan kalau petani dan masyarakat banyak berkreasi, berupaya mandiri dengan berbagai inovasinya. Tidak selalu menggantungkan kepada pemerintah, misalnya. Apalagi kalau upayanya itu bisa memberikan kesejahteraannya.
Namun, berhadapan dengan sawah organik itu tentunya perlu diperhatikan juga tipe-tipe tanah yang dihadapi. Ada yang strukturnya ringan dan ada yang berat. Dengan membuat tanah sawah itu berstruktur lumpur, sedikit banyaknya itu memang disengaja agar air bisa ditahan untuk kepentingan pertumbuhan padi.
Tentu tanah umumnya memerlukan bahan organik supaya strukturnya tetap sehat, organisme mikro bisa tumbuh baik, dan tanaman berkecukupan unsur mikro. Tetapi, tanaman tetap memerlukan unsur makro.
Keseimbangan antara kedua kebutuhan unsur hara itu menghasilkan pertanian berkelanjutan (sustainable farming) yang kalau diberi input modern akan bisa meraih produksi yang maksimum tinggi, sedangkan kalau pertanian organik (organic farming) barangkali hanya sekadar produksi moderat.
Pandangan seperti itu bisa jadi bertolak dari analisis akan kebutuhan pangan dunia pada waktu-waktu mendatang. Direktur Jenderal IRRI dalam International Rice Conference di Bali beberapa waktu lalu mengemukakan tentang pentingnya doubly green revolution.
Input teknologi modern hasil perkembangan keilmuan manusia masih saja diperlukan untuk mengatasi kekurangan pangan itu. Ini bukan membesar-besarkan masalah, tetapi memang masalahnya cukup besar.
Pertanian berkelanjutan
Fenomena perpadian kita memang perlu sekali mendapat perhatian semua kita secara lebih intens. Teknis, sosial, ekonomis, politis, semua ada di situ.
Rotasi pertanaman sawah antara padi dan palawija yang bisa menyehatkan tanah lama tidak menjadi anjuran kita demi mengejar produksi beras kita. Padahal, pola itu merupakan pertanian berkelanjutan tradisional kita yang andal.
Sewaktu penduduk negeri ini belum sebesar saat ini, pola itu bersifat sosial-ekonomis yang sehat bagi kehidupan petani. Penanaman pupuk hijau seperti sejenis crotalaria, yang dulu selalu menjadi bahan penyuluhan penyuluh pertanian, puluhan tahun telah kita tinggalkan.
Bahkan, mengelola sawah 2-3 kali setahun menjadi idaman. Namun, seruan kalangan ahli kesuburan tanah untuk memikirkan unsur mikro di sawah dianggap seperti angin lalu saja, semua hanya menargetkan produksi beras.
Mungkin sekarang sudah saatnya untuk memiliki program agropolitik yang berbeda dari yang dulu-dulu. Teknologi modern hendaknya kita terapkan kepada pertanian berkelanjutan di persawahan kita.
Barangkali perlu ada program pembuatan kompos nasional di samping industri-industri kompas di pedesaan kita. Kompos nasional itu kalau bisa didistribusikan gratis kepada petani, di samping anjuran pemupukan inorganik yang wajar. Bagaimanapun, produksi yang tinggi masih kita perlukan. Ini memerlukan ilmu dan teknologi.
Efisiensi petani menggunakan benih dan menerapkan pesemaian kering sungguh menakjubkan. Apalagi beraninya petani menanam satu batang bibit padi umur seminggu di lahannya. Padahal, biasanya ditanam bibit 2-3 batang umur 2-3 minggu sebelum bibit bertunas. Bibit pun tidak ditancapkan dalam-dalam.
Bisa dibayangkan kalau terjadi hujan keras sesudah tanam atau kondisi air di petak sawahnya yang tidak bisa dikontrol kedangkalannya. Sistem hemat air, hemat bibit, hemat waktu ini sungguh memerlukan perhatian petani lebih intens dan tenaga kerja penyiangan gulma yang lebih besar.
Betapapun, kita patut memberikan penghargaan kepada petani yang berusaha keras mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya itu. Dorongan harus kita berikan sehingga timbul selfrespect kepada profesi yang diembannya.
Petani padi kita sebenarnya tidak memerlukan "belas kasihan" atau "perlindungan" pihak lain, apalagi sampai dijadikan "cagar budaya". Harus bisa kita jaga agar pertanian organik di sawah padi kita tidak menjadi antiklimaks yang akan merugikan kita semua.

Sjamsoe’oed Sadjad Pakar Pertanian dari IPB

Friday, March 09, 2007

Sikap Rendah Hati dan Tanggung Jawab Ilmiah Aisyah r.a.

5. Sikap Rendah Hati dan Tanggung Jawab Ilmiah Aisyah r.a.

Syuraih bin Hani berkata: "Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang mengusap sepatu ketika berwudhu. Aisyah berkata: 'Datanglah kepada Ali, sebab dia lebih tahu daripadaku mengenai masalah itu.' Menurut satu riwayat: 'Sebab dia pernah bepergian bersama Rasulullah saw.' Lalu aku mendatangi Ali. Ali menceritakan dari Nabi saw. bahwa tiga hari tiga malam untuk orang yang musafir dan satu hari satu malam untuk orang yang mukim ..." (HR Muslim)279
Dari Kuraib dikatakan bahwa Ibnu Abbas, Miswar bin Makhramah, dan Abdurrahman bin Azhar r.a. menyuruhnya menemui Aisyah r.a.. Mereka berkata: "Sampaikanlah salam kami kepadanya, dan tanyakan kepadanya mengenai dua rakaat shalat sesudah asar serta katakan kepadanya bahwa kami mendengar kabar kalau engkau (Aisyah) juga melakukannya, padahal kami dengar Rasulullah saw. melarangnya.

" Ibnu Abbas berkata: "Waktu itu aku sedang bersama Umar ibnul Khattab segera beranjak meninggalkan tempat untuk menjauh."
Selanjutnya Kuraib berkata: "Aku pergi menemui Aisyah r.a. dan menyampaikan apa yang mereka pesankan kepadaku. Aisyah berkata: 'Kamu tanyakan saja kepada Ummu Salamah.' Lalu aku pulang menemui orang-orang yang menyuruhku tadi dan aku beritahu apa jawaban Aisyah. Mereka kemudian kembali menyuruhku menemui Ummu Salamah r.a. guna menanyakan hal yang sama. Ummu Salamah berkata r.a.: 'Aku memang pernah mendengar Rasulullah saw. melarangnya. Namun kemudian aku juga pernah melihat beliau melakukannya setelah shalat asar. Setelah itu beliau masuk ke rumah yang pada saat itu aku sedang bersama beberapa wanita Bani Haram dari kalangan Anshar Lalu aku mengutus seorang budak perempuan kepada Rasulullah saw.' Kepadanya aku katakan: 'Berdirilah kamu di samping beliau dan katakanlah kepada beliau seperti ini: "Ummu Salamah berkata padamu, wahai Rasulullah: 'Aku pernah mendengarmu melarang mengerjakan yang dua rakaat ini, tetapi aku lihat engkau sendiri melakukannya? Seandainya b eliau
memberi isyarat dengan tangannya maka tunggulah dulu." Lalu budak perempuan itu melaksanakan apa yang kuperintahkan, dan ternyata beliau memberi isyarat dengan tangannya, maka budak perempuan itu mundur. Kemudian setelah beliau selesai mengerjakan shalat dua rakaat itu beliau berkata: 'Wahai putri Abu Umayyah, kamu pasti ingin menanyakan shalat dua rakaat yang sesudah asar itu. Ketahuilah bahwa tadi ada beberapa orang dari Suku Abdul Qais datang kepadaku. Aku sibuk melayani mereka sehingga tidak sempat melakukan shalat dua rakaat setelah zuhur. Maka dua rakaat yang aku kerjakan sekarang adalah pengganti dua rakaat setelah zuhur yang ketinggalan itu.'" (HR Bukhari dan Muslim)280
Ibrahim berkata: "Aku berkata pada al-Aswad: 'Apakah kamu sudah pernah menanyakan kepada Aisyah mengenai bejana apa yang tidak baik digunakan sebagai tempat penyimpanan anggur?'" Aswad berkata: "Pernah. Aku bertanya padanya seperti ini: 'Wahai Ummul Mukminin, tempat apakah yang dilarang Nabi saw. menyimpan anggur?' Aisyah menjawab: "Sama seperti larangan yang beliau berlakukan terhadap kami ahlul bait (keluarga Nabi saw.), yaitu bejana dari labu air dan bejana yang dicat dengan ter (gala-gala)." Aku bertanya: "Mengapa kamu tidak menyebutkan bejana tempayan dan yang sejenisnya?" Dia menjawab: "Aku hanya mau menceritakan kepadamu apa yang pernah aku dengar. Apakah aku harus menceritakan apa yang belum pernah aku dengar?" (HR Bukhari)281
6. Minat Aisyah untuk Mencapai Ketinggian Derajat
a. Sebelum Ayat Hijab Diturunkan
Anas r.a. berkata: "Ketika terjadi tragedi dalam Perang Uhud, banyak prajurit Islam yang lari meninggalkan Nabi saw. Aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim sibuk sekali melayani pasukan. Mereka menyingsingkan pakaian sehingga kelihatan olehku gelang-gelang kaki mereka. Dengan langkah cepat mereka mengangkat girbah air di atas punggung mereka untuk memberi minum pasukan Islam. Kemudian pergi lagi mengisi girbah air tersebut, lalu datang lagi untuk memberi minum pasukan sampai isi girbah itu kosong ..." (HR Bukhari dan Muslih)282
b. Setelah Ayat Hijab Diturunkan
Aisyah r.a. berkata: "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad itu adalah amalan yang paling afdal. Apakah kami tidak boleh ikut berjihad?" Nabi saw. menjawab: "Kalian mempunyai jihadyang paling afdal, yaitu haji mabrur." Menurut satu riwayat:283 "Apakah kami tidak boleh berperang dan berjihad bersamamu?" Lalu Nabi saw. menjawab: "Tetapi jihad yang lebih baik dan lebih indah bagi kalian adalah haji, yaitu haji mabrur." Selanjutnya Aisyah berkata: "Setelah mendengar apa yang dikatakan Rasulullah saw. ini aku tidak pernah lagi meninggalkan haji." (HR Bukhari)284
Aisyah r.a. berkata: "Aku pernah bepergian bersama Rasulullah saw. dengan mengenakan ihram untuk melaksanakan haji pada bulan-bulan haji dan pada musim kaji. Sesampainya di desa Saraf (yang terletak sekitar 10 km dari Mekah), Nabi saw. berkata kepada para sahabatnya: 'Barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa hewan sembelihan, maka tidak boleh.' Ketika itu bersama Nabi saw. ada beberapa orang sahabat beliau yang mempunyai hewan sembelihan, tetapi mereka tidak melakukan umrah. Lantas Nabi saw. menemuiku, sementara aku ketika itu sedang menangis. Beliau bertanya: 'Mengapa kamu menangis?' Aku menjawab: 'Aku mendengarmu berkata kepada para sahabatmu apa yang telah kamu katakan itu, ketika kamu melarang mengerjakan umrah.'" Menurut satu riwayat disebutkan bahwa Aisyah berkata: "Wahai Rasulullah, apakah orang-orang kembali dengan dua pahala, sementara aku hanya dengan satu pahala?"285 Menurut satu riwayat lagi Aisyah berkata: "Wahai Rasulullah, orang- orang mengerjakan dua
ibadah, sementara aku cuma satu ibadah?"286 Nabi saw. berkata: "Memangnya ada apa denganmu?" Aisyah menjawab: "Aku sedang tidak boleh shalat." Nabi saw. berkata: "Itu tidak jadi soal bagimu dan tidak ada hubungannya dengan masalah putri-putri Adam yang lain. Allah mencatat pahala untukmu seperti yang Dia catat untuk mereka. Karena itu, teruskanlah hajimu. Mudah-mudahan saja Allah memberimu pahala yang penuh." Aisyah berkata: "Akhirnya aku meneruskan hajiku sampai aku mengerjakan nafar di Mina. Kemudian kami singgah di Muhashshab (oase dekat Mina). Kemudian Nabi saw. memanggil Abdurrahman dan berkata: "Bawalah saudara perempuanmu ini ke tanah Haram dan berihramlah untuk umrah!" (HR Bukhari dan Muslim)287
7. Penuturan Aisyah r.a. tentang Kelebihan Keluarga Rasulullah saw.
Aisyah berkata: "Tidak ada rasa cemburuku terhadap salah seorang istri-istri Nabi saw. yang melebihi rasa cemburuku terhadap Khadijah, padahal aku tidak pernah melihat (bertemu dengan)nya. Akan tetapi (rasa cemburuku itu timbul karena) Nabi saw. seringkali menyebut-nyebutnya. Bahkan beliau sering menyembelih seekor kambing, lalu memotongnya menjadi beberapa bagian, kemudian mengirimkannya kepada teman-teman Khadijah." Terkadang aku berkata kepada Rasulullah saw.: 'Seolah-olah tidak ada di dunia ini wanita selain Khadijah?' Beliau berkata: 'Sesungguhnya dia (adalah wanita yang utama), dan dia (adalah wanita yang bijaksana) dan darinyalah aku mendapatkan anak.'" (HR Bukhari dan Muslim)288
Aisyah berkata: "... lalu istri-istri Nabi saw. menyuruh Zainab binti Jahasy, istri Nabi saw. Dialah yang selalu bersaing denganku untuk mengambil tempat di hati Rasulullah saw. Dia memang wanita yang pandai dalam soal agama, sangat takut kepada Allah, bicaranya sangat jujur, suka melakukan silaturrahim, senang memberikan sedekah, serta tidak segan-segan mengorbankan tenaganya untuk amal sedekah dan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta'ala. Hanya sayangnya, dia adalah wanita yang lekas marah apabila ada sesuatu yang mengganjalnya. Akan tetapi dia cepat pula memaafkan." (HR Muslim)289
Hisyam, dari ayahnya, mengatakan bahwa Hassan bin Tsabit termasuk orang yang berlebihan terhadap Aisyah (menyangkut kasus berita bohong). Ketika aku mencaci maki dia, Aisyah menegurku seraya berkata: "Biarkan saja dia, wahai keponakanku. Sesungguhnya dia adalah orang yang pernah membela Rasulullah saw." (HR Bukhari dan Muslim)290
Urwah bin Zubair berkata: "... Aisyah tidak suka kalau Hassan bin Tsabit (yang terlibat dalam kasus berita bohong) dicaci maki di hadapanku, dan dia berkata bahwa Hassanlah yang pernah berkata: 'Sesungguhnya ayahku, orang tua ayahku, dan kehormatanku ... siap menjaga kehormatan Muhammad dari serangan kalian.'" (HR Bukhari dan Muslim)291
8. Sifat Zuhud dan Pemurah Aisyah r.a.
Auf bin Thufail, kemenakan Aisyah dari jalur ibu, mengatakan bahwa ada yang bercerita kepada Aisyah bahwa Abdullah bin Zubair berkata mengenai jual beli atau suatu pemberian yang diberikan Aisyah: "Demi Allah, hendaklah Aisyah berhenti melakukannya atau dia akan aku diamkan (tidak aku sapa) selama-lamanya." Di dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Zubair adalah orang yang paling disenangi Aisyah setelah Nabi saw. dan Abu Bakar. Abdullah bin Zubair adalah orang yang paling baik terhadap Aisyah. Aisyah tidak pernah menahan rezeki Allah yang datang kepadanya kecuali dia sedekahkan.292 Aisyah berkata: "Benarkah Abdullah bin Zubair mengucapkan kata-kata itu?" Para sahabat menjawab: "Benar." Aisyah berkata: "Demi Allah, aku bernazar tidak akan berbicara dengan Ibnu Zubair selama-lamanya."
Akhirnya Ibnu Zubair meminta bantuan seseorang untuk menyelesaikan masalahnya dengan Aisyah. Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tidak menerima bantuan seseorang untuk menengahi kasus Ibnu Zubair ini dan aku tidak mau melanggar nazarku." Karena Ibnu Zubair merasa sudah lama sekali tidak bertegur sapa dengan Aisyah, akhirnya dia mencoba berbicara dengan Miswar bin Makhramah dan Abdurrahman ibnul Aswad bin Abdi Yaghuts. Keduanya adalah dari Bani Zuhrah. Ibnu Zubair berkata kepada mereka: "Demi Allah, aku betul-betul berharap agar kalian bersedia membawaku menemui Aisyah, sebab tidaklah halal (baik) baginya bernazar untuk memutuskan hubungan denganku." Mereka menerima permintaan Ibnu Zubair. Setelah memakai jubah mereka berangkat menuju rumah Aisyah. Sampai di situ mereka mengucapkan: "Assalamu'alaikom warahmatullahi wabarakatuh, apakah kami boleh masuk?" Aisyah menjawab: "Silakan!" Mereka bertanya: "Apakah semua kami?" Aisyah men jawab: "Ya, silakan masuk semuanya!" Sementara
Aisyah tidak tahu bahwa bersama mereka ada Ibnu Zubair. Setelah mereka masuk, Ibnu Zubair segera masuk menembus hijab pembatas dan langsung mendekati Aisyah, dan sambil menangis dia meminta Aisyah memaafkannya. Demikian pula halnya dengan Miswar dan Abdurrahman. Mereka terus memohon Aisyah agar mau berbicara dan menerima kedatangan Ibnu Zubair, dan mereka mengatakan bahwa Nabi saw., seperti yang kalian ketahui, melarang pemutusan tegur sapa, dan tidaklah halal (boleh) bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari. Setelah mereka berbicara panjang lebar untuk mengingatkan dan mendesak Aisyah, akhirnya sambil menangis Aisyah berkata: "Sesungguhnya aku sudah bernazar dan nazarku itu sangat berat." Tetapi mereka tetap bersikeras meminta dan mendesak Aisyah sehingga akhirnya Aisyah bersedia berbicara dengan Ibnu Zubair. Untuk menebus nazarnya itu, dia memerdekakan empat puluh orang budak. Ketika ingat akan nazarnya itu setelah kejadian t ersebut,
Aisyah menangis sehingga air matanya bercucuran membasahi kerudungnya." (HR Bukhari)293
9. Sifat Wara Aisyah r.a.
Amr bin Maimun al-Audi berkata: "Aku melihat Umar ibnul Khattab r.a. berkata: 'Wahai Abdullah bin Umar, pergilah ke tempat Ummul Mukminin, Aisyah r.a., dan katakanlah kepadanya bahwa Umar ibnul Khattab menyampaikan salam, kemudian tanyakan kepadanya bagaimana kalau aku dimakamkan bersama kedua sahabatku (yakni Rasulullah saw. dan Abu Bakar).' Aisyah berkata: 'Sebenarnya aku ingin tempat itu untukku. Tetapi hari ini biarlah aku mengalah untuk mengabulkan permintaan Umar.' Setelah kembali kepada ayahnya, Umar bertanya kepada Abdullah: 'Apa berita yang kamu bawa?' Abdullah bin Umar menjawab: 'Wahai Amirul Mukminin, Aisyah mengizinkannya untukmu." Umar ibnul Khattab berkata: "Tidak satu pun yang lebih penting bagiku sekarang selain tempat berbaring di dekat kedua sahabatku itu. Apabila nyawaku sudah dicabut, maka kalian bawalah aku kepada Aisyah dan ucapkanlah salam kepadanya, kemudian katakan: 'Umar ibnul Khattab meminta izin dan seandainya dia (Aisyah) mengizinka n, maka
kuburkanlah aku di sana, dan jika tidak, maka bawalah aku kembali ke pemakaman kaum muslimin.'" (HR Bukhari)294
Ibnu Abi Malikah berkata: "Ibnu Abbas meminta izin menjenguk Aisyah sebelum dia meninggal dunia, yaitu ketika Aisyah sedang sekarat. Aisyah berkata: 'Aku khawatir kalau aku dipuji ...' Berikutnya masuk Ibnu Zubair. Lalu Aisyah berkata: 'Ibnu Abbas masuk, lalu dia memujiku. Sebenarnya aku ingin menjadi orang yang dilupakan dan terlupakan.'" (HR Bukhari)295 Dari Aisyah dikatakan bahwa dia berkata kepada Ibnu Zubair: "Kuburkanlah aku bersama sahabat-sahabatku (istri-istri Rasulullah saw.), dan janganlah aku dikuburkan bersama Nabi saw., sebab aku tidak suka kalau diriku dipuji-puji." (HR Bukhari)296
10. Keberanian Aisyah
Jika sikap Aisyah ketika Perang Uhud yang ketika itu dia ikut melayani pasukan, memanggul girbah air di atas punggungnya, sedangkan waktu itu dia baru berusia sebelas tahun, maka sekarang mari kita perhatikan pula bagaimana sikapnya pada waktu terjadinya Perang Khandaq setelah dia berusia dua belas tahun. Aisyah berkata: "Pada hari terjadinya Perang Khandaq, aku keluar mengikuti jejak pasukan Islam. Tiba-tiba aku mendengar deru suara hentakan kaki di bumi. Ketika menoleh, ternyata aku melihat ada Sa'ad bin Mu'adz datang bersama keponakannya, Harits bin Aus yang memakai perisai. Aku segera duduk di tanah. Maka lewatlah Sa'ad yang ketika itu memakai baju besi. Ujung-ujung baju besinya terlihat terlepas. Sambil berjalan Sa'ad melantunkan syair rajaz yang bunyinya seperti berikut:
Semoga untukku merasakan sedikit bagaimana rasanya perang...
Alangkah indahnya bila tiba ajal
Aku berdiri, lalu bergegas masuk taman. Ternyata di situ sudah ada sekumpulan orang Islam, di antaranya Umar ibnul Khattab, dan salah seorang dari mereka adalah laki-laki yang memakai topi baja. Umar berkata kepadaku: 'Mengapa kamu datang ke sini? Astaghfirullah, kamu ini betul-betul nekad. Siapa yang bisa melindungimu kalau tiba bencana atau tempat ini tiba-tiba berubah menjadi kancah peperangan?'"Aisyah berkata: "Umar terus mengata-ngataiku, sehingga aku berharap kiranya bumi ini terbelah, lalu aku terperosok ke dalamnya." Selanjutnya Aisyah berkata: "Lalu laki-laki yang memakai topi baja tadi mengangkat topi baja yang menutupi mukanya. Rupanya dia adalah Thalhah bin Ubaidillah. Thalhah berkata: "Wahai Umar, kamu sudah terlalu banyak berbicara kepadanya. Kemana lagi mau pergi atau lari selain kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia?" Aisyah berkata; "Lalu salah seorang laki-laki musyrik dari kalangan Quraisy, namanya Ibnul Irqah, membidik Sa'ad dengan anak panahnya.
Ibnul Irqah berkata kepada Sa'ad: "Terimalah ini olehmu. Aku adalah Ibnul Irqah." Ibnul Irqah membidik tepat pada lengan Sa'ad sehingga memutuskan urat nadinya. Lantas Sa'ad memanjatkan doa kepada Allah SWT seraya memohon: "Ya Allah, janganlah Engkau matikan aku hingga hatiku senang membalas Bani Quraizhah." Aisyah berkata; "Mereka dahulunya adalah sekutu pada zaman jahiliah." Kemudian Aisyah berkata; "Kemudian darah luka Sa'ad berhenti mengalir. Setelah itu Allah SWT mengirimkan angin topan ke arah orang-orang musyrik, sehingga orang-orang mukmin memenangkan peperangan tersebut. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (HR Ahmad)297
Umar ibnul Khattab berkata bahwa dia datang menemui Hafshah, lalu berkata: "Wahai putriku, sesungguhnya kamu sudah membuat ulah terhadap Rasulullah sehingga membuat beliau murung seharian." Hafshah berkata: "Memang benar, kami telah membuat ulah terhadap Rasulullah saw." Aku (Umar) berkata: "Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku pernah memperingatkanmu dari siksa Allah dan murka Rasulullah? ... Kemudian Umar menemui Aisyah dan berkata: "Wahai putri Abu Bakar, sudah cukupkah kamu dalam menyakiti Rasulullah?" Aisyah menjawab: "Apa urusanmu denganku, wahai putra al-Khattab? Urus sajalah aibmu sendiri (maksudnya aib putrimu sendiri)." (HR Muslim)298
Abu Maryam (yaitu) Abdullah Ibnu Ziyad al-Asadi berkata: "Ketika Thalhah, az-Zubair, dan Aisyah berangkat menuju Bashrah, Ali mengutus Ammar bin Yasir dan Hasan bin Ali. Lalu kedua orang ini datang kepada kami di Kufah, lalu keduanya naik mimbar. Hasan bin Ali berada di mimbar paling atas, sementara Ammar berdiri di tempat yang lebih rendah daripada Hasan. Kami berkumpul ke tempat Hasan. Lalu aku mendengar Ammar berkata: 'Sesungguhnya Aisyah sudah berangkat ke Bashrah, dan demi Allah, dia adalah istri Nabi kalian baik di dunia maupun di akhirat. Akan tetapi Allah SWT menguji kalian apakah kepada-Nya kalian taat atau kepada Aisyah."' (HR Bukhari)299
11. Benar dalam Meriwayatkan Hadits
Aisyah berkata: "Tidakkah kalian berminat mendengar ceritaku mengenai aku dan mengenai Rasulullah saw.?" Kami menjawab: "Tentu saja."... Lantas Aisyah bercerita: "Pada malam ketika Rasulullah saw. berada di tempatku, beliau berbalik untuk meletakkan selendangnya, melepaskan kedua terompahnya, dan meletakkannya di samping kedua kakinya. Selanjutnya beliau bentangkan ujung kainnya, lalu beliau tidur-tiduran. Tidak berapa lama kemudian, ketika beliau menyangka aku telah tidur, beliau mengambil selendangnya pelan-pelan, memakai terompah pelan-pelan, lalu beliau membuka pintu dan keluar, kemudian menutupnya pelan-pelan. Aku memasang pakaianku di kepala, memakai kerudung, dan mengenakan kainku. Kemudian aku berangkat mengikuti beliau. Ketika beliau sampai di Baqi', beliau berdiri lama, lalu mengangkat tangan tiga kali. Kemudian beliau berlalu, aku pun ikut berlalu. Ketika beliau mempercepat langkahnya, aku juga mempercepat langkahku. Beliau lebih cepat lagi , aku juga lebih cepat
lagi. Akhirnya aku lebih dahulu sampai dan masuk rumah. Begitu aku berbaring, beliau masuk. Beliau bertanya: 'Mengapa nafasmu naik turun, wahai Aisyah?' Aku menjawab: 'Tidak apa-apa.' Beliau berkata: '(Silakan pilih) kamu sendiri yang memberitahuku atau Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Tahu yang akan memberitahuku?' Aisyah berkata: 'Ya Rasulullah, demi ibu bapakku, aku akan memberitahumu.' Lalu aku memberitahu beliau apa yang terjadi.' Beliau bertanya: 'Jadi engkaukah sosok hitam yang aku lihat di depanku tadi?' aku jawab: 'Ya.' Lalu beliau menyodok dadaku hingga membuatku kesakitan. Kemudian beliau bertanya: 'Apakah engkau menyangka bahwa Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimi kamu?' Aisyah menjawab: 'Betapapun manusia berusaha menyembunyikan, Allah pasti mengetahuinya. Memang benar demikian.' Selanjutnya Rasulullah saw. menceritakan: 'Jibril datang kepadaku ketika engkau melihat. Dia memanggilku dengan menyembunyikannya (merahasiakannya) darimu. Akupun menjawabnya s ecara
rahasia pula. Dia tidak mau masuk, karena engkau telah melepas pakaianmu, lalu aku menyangka engkau telah tidur. Aku tidak ingin membangunkanmu dan aku khawatir engkau akan merasa kelelahan.' Dia (Jibril) berkata: 'Sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu untuk datang kepada ahli Baqi' dan memintakan ampun untuk mereka.' Aisyah bertanya: 'Bagaimana aku mengucapkan untuk mereka, ya Rasulullah?' Rasulullah saw. menjawab: 'Ucapkanlah ...
Semoga keselamatan tetap atas kalian, penghuni perkampungan dari kaum mukminin dan muslimin dan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kami dan yang kemudian. Dan kami Insya Allah akan menyusul.'" (HR Muslim)300
Aisyah r.a. berkata: "Rasulullah saw. itu senang madu dan sesuatu yang manis-manis. Setiap kali selesai melakukan shalat asar beliau biasanya menemui istri-istrinya. Ketika datang giliran Hafshah, beliau lama sekali berada di sisinya, sehingga aku merasa cemburu. Ketika hal itu aku tanyakan, ada seseorangg yang menjelaskan bahwa Hafshah mendapat hadiah semangkuk madu dari salah seorang perempuan dari kaumnya. Haishah menyuguhkan sebagian dari madu itu kepada Rasulullah saw. Aku berkata dalam hati: 'Tunggu, akan aku lakukan suatu siasat untuk beliau.'" Lalu aku katakan kepada Saudah binti Zam'ah: "Beliau akan datang ke tempatmu. Bila beliau sudah berada di tempatmu, maka katakanlah kepada beliau: 'Apakah engkau habis makan maghafir (getah kayu yang dijadikan bahan perekat. Rasanya manis, tetapi baunya tidak sedap)? Beliau pasti akan bilang: 'Tidak.' Lalu kamu katakan pada beliau: 'Bau apa ini yang aku cium darimu?' Beliau pasti akan menjawab: 'Hafshah menyuguhka n minuman
madu untukku.' Lalu katakan kepada beliau: 'Oh, barangkali lebahnya bersarang di pohon urfuth (nama kayu yang menghasilkan getah maghafir).' Hal semacam ini juga akan aku sarankan kepada Shafiyyah untuk melakukannya." Aisyah berkata bahwa Saudah berkata: "Sungguh, begitu beliau sudah berdiri di pintu masuk, aku ingin memulai apa yang kamu perintahkan itu karena aku takut kepadamu." Tatkala Rasulullah saw. menghampiri Saudah, Saudah langsung berkata pada beliau: "Wahai Rasulullah, apakah engkau habis makan maghafir?" Beliau menjawab: "Tidak." Saudah berkata: "Lalu bau apa yang kucium darimu ini?" Beliau menjawab: "Aku baru saja disuguhi minuman madu oleh Hafshah." Aku (Saudah) berkata: "Oh, barangkali lebahnya bersarang di pohon urfuth." Ketika beliau datang ke rumahku, pertanyaan tersebut aku sampaikan kepada beliau. Ketika beliau datang ke rumah Shafiyyah, Shafiyyah juga menyampaikan pertanyaan serupa. Ke mudian ketika tiba giliran beliau ke rumah Hafhsah kembali, Hafshah
berkata. "Wahai Rasulullah, apakah engkau mau aku suguhkan kembali minuman madu untukmu?" Beliau berkata: "Aku sudah tidak menginginkannya lagi." Aisyah berkata bahwa Saudah berkata: "Demi Allah, berarti kita sudah mengharamkannya." Aku berkata: "Sudah, diam kamu!" (HR Bukhari dan Muslim)301
Aisyah, Ummul Mukminin, mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda ketika sewaktu beliau sakit: "Suruhlah Abu Bakar shalat bersama orang-orang." Aisyah berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar, apabila dia menempati tempatmu, dia tidak dapat memperdengarkan suaranya kepada orang-orang karena dia suka menangis. Sebaiknya suruh saja Umar shalat bersama orang-orang. Namun beliau tetap berkata: 'Suruhlah Abu Bakar shalat bersama orang-orang.'" Aisyah berkata: "Akhirnya aku berkata kepada Hafshah: 'Katakanlah kepada beliau bahwa sesungguhnya Abu Bakar itu orangnya sangat mudah sedih. Apabila dia berdiri menempati tempatmu, dia tidak akan bisa memperdengarkan suaranya kepada orang-orang karena menangis. Karena itu sebaiknya suruh saja Umar shalat bersama orang-orang.'" Lalu Hafshah menyampaikan usulan Aisyah kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw. berkata: "Sudahlah, kalian ini benar-benar temannya Yusuf. Suruh saja Abu Bakar supaya shalat bersama orang-orang!" Hafshah berkata kepada
Aisyah: "Maaf, aku tidak bisa melaksanakan perintahmu dengan baik."
Dalam satu riwayat302 disebutkan: "Aisyah berkata: 'Sungguh aku telah meminta pertimbangan kepada Rasulullah saw. mengenai hal itu (dijadikannya Abu Bakar sebagai imam). Dan tidak ada yang mendorongku untuk sering minta pertimbangan beliau selain karena aku merasa bahwa orang-orang sesudah beliau tidak menyukai seseorang yang menggantikan kedudukan beliau selamanya , dan aku pun berpendapat bahwa tidak seorang pun yang menempati kedudukan beliau melainkan orang-orang merasa pesimis terhadapnya. Oleh karena itulah aku ingin agar beliau membatalkan pilihan beliau untuk Abu Bakar." (HR Bukhari dan Muslim)303
12. Ujian Berat dan Kasus Berita Bohong
Aisyah r.a. berkata: "Apabila akan bepergian, biasanya Rasulullah saw. mengadakan undian di antara istri-istri beliau. Barangsiapa yang nomor undiannya keluar, dialah yang akan ikut berangkat bersama Rasulullah saw." Aisyah berkata: "Lalu Rasulullah saw. mengadakan undian di antara kami pada suatu peperangan yang beliau ikuti. Ternyata nomorku yang keluar. Akhirnya aku berangkat bersama Rasulullah saw. setelah turunnya ayat hijab. Aku diangkut dan ditempatkan di dalam sekedup, lalu kami berangkat. Hingga ketika Rasulullah saw. sudah selesai dan kembali dari peperangan itu, dan ketika itu kami sudah mendekati kota Madinah untuk kembali, maka beliau mengumumkan pemberangkatan pada malam hari. Aku berdiri pada saat mereka mengumumkan pemberangkatan, lalu aku berjalan sehingga melewati para prajurit. Setelah selesai menunaikan hajat aku kembali ke tempat barang bawaanku. Ketika aku raba dadaku, ternyata kalungku yang terbuat dari manik-manik zhifar (Zhifar adalah n ama sebuah
kota yang terletak di belahan paling timur Yaman) putus. Aku kembali untuk mencari kalungku itu sehingga waktuku banyak habis untuk mencarinya." Aisyah berkata: "Lalu datang orang-orang yang tadinya membawaku pergi, mereka langsung menaikkan sekedupku dan memberangkatkannya dengan unta yang tadinya aku kendarai. Mereka mengira bahwa aku ada di dalam sekedup itu. Berat badan wanita ketika itu tidak terlalu berat karena mereka kurus, tidak dibalut daging, dan hanya makan sedikit, sehingga mereka tidak merasakan ringannya sekedup di saat mengangkat dan menaikkannya (ke atas untukku). Apalagi aku pada saat itu masih kecil dan muda belia. Lalu mereka membangunkan untuku dan mereka pun berjalan. Sementara aku baru menemukan kalungku setelah para prajurit berlalu. Aku datang ke tempat persinggahan mereka, namun di sana tidak seorang pun yang memanggil dan menjawab. Aku pergi menuju ke tempat persinggahan semula, dan aku mengira bahwa mereka akan kehilanganku, lalu mereka akan
kembali mencariku di tempat itu.
Pada saat aku duduk di tempat persinggahanku, mataku mengantuk, lalu tertidur. Ternyata Shafwan bin Mu'attal as-Sulami kemudian Dzakwani berada di belakang para serdadu. Pada pagi harinya dia sampai di tempat persinggahanku. Dia melihat sosok hitam seseorang yang sedang tidur. Begitu melihatku, dia langsung mengenaliku, sebab dia pernah melihatku sebelum turunnya ayat hijab. Aku terbangun ketika dia mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un begitu dia mengenaliku. Aku bergegas menutupi wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, kami tidak berbicara sepatah kata pun dan aku tidak mendengar satu kata pun yang dia ucapkan selain ucapan inna lillah tersebut. Dia turun, lalu menderumkan untanya. Kemudian dia menginjak kaki depan untanya. Aku lekas bangkit dan naik ke atas untanya. Lalu ia menuntun untanya hingga kami sampai ke tempat para prajurit yang sedang berhenti untuk istirahat pada siang hari yang sangat terik."
Aisyah berkata: "Binasalah orang yang binasa. Orang yang merekayasa berita bohong itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul." Urwah berkata: "Saya diberitahu bahwa berita bohong itu disiarkan dan dibicarakan di dekatnya (Ibnu Ubay bin Salul). Lalu dia mengakui, mendengarkan, dan membahasnya." Selanjutnya Urwah berkata: "Para pembawa berita bohong itu tidak ada yang disebutkan namanya selain Hassan bin Tsabit, Misthah bin Utsatsah, dan Hamnah binti Jahsy serta lainnya yang tidak kuketahui selain bahwa mereka itu adalah sekelompok orang sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta'ala."
Urwah berkata: "Aisyah tidak suka Hassan dicerca di hadapannya dan Aisyah mengatakan bahwa Hassan adalah orang yang pernah berkata: 'Sesungguhnya ayahku, orang tua ayahku, dan kehormatanku ... siap menjaga kehormatan Muhammad dari serangan kalian.'
Aisyah berkata: "Lalu kami tiba di Madinah. Aku ditimpa sakit sesampainya di Madinah selama satu bulan. Sementara orang-orang terpengaruh dengan ucapan para pembawa berita bohong itu. Sedangkan aku tidak tahu sedikit pun mengenai semua itu. Hal yang mulai membuatku curiga adalah bahwa aku tidak melihat lagi kelemah-lembutan Rasulullah saw. seperti yang pernah aku lihat ketika aku sakit. Ketika masuk menemuiku, beliau hanya mengucapkan salam lalu bertanya: 'Bagaimana keadaanmu,' lalu beliau berpaling. Hal itulah yang membuatku mulai curiga. Namun aku belum tahu berita buruk yang sedang berkembang, sehingga ketika sembuh dari sakit, aku langsung saja keluar. Aku keluar bersama Ummu Misthah ke daerah Manashi' (yang terletak di luar kota Madinah). Kami buang air di tempat itu. Kami tidak keluar kecuali dari satu malam ke malam berikutnya. Hal itu kami lakukan sebelum kami membuat tempat buang air di dekat rumah kami masing-masing.'" Aisyah berkata: "Tata car a hidup kami
menyangkut buang air sama dengan orang-orang Arab Kuno yang tinggal di pedesaan. Kami merasa agak terganggu/kurang enak kalau tempat buang air itu dibuat di dekat rumah." Aisyah berkata: "Aku pergi bersama Ummu Misthah. Dia adalah putri Abu Rahm ibnul Muttalib bin Abdi Manaf, sementara ibunya adalah putri Shakhr bin Amir, paman Abu Bakar dari garis ibu. Sedangkan putranya adalah Misthah bin Utsatsah Abbad ibnul Muttalib. Lalu aku dan Ummu Misthah kembali ke rumahku setelah kami selesai menunaikan hajat. Kemudian Ummu Misthah tersandung baju bulunya, lalu dia berkata: 'Celakalah Misthah.' Aku berkata padanya: 'Buruk sekali apa yang kamu ucapkan. Apakah kamu mencerca seseorang yang pernah ikut serta pada Perang Badar?" Ummu Misthah berkata: 'Aisyah, Aisyah! Apakah kamu belum mendengar apa yang dia katakan?'Aisyah berkata: 'Memang apa yang dia katakan?' Lalu Ummu Misthah menceritakan apa yang diperkatakan oleh para pembawa berita bohong itu kepadaku."
Aisyah berkata: "Akhirnya sakitku bertambah parah. Ketika aku kembali ke rumah, Rasulullah saw. masuk ke tempatku. Setelah beliau mengucapkan salam, aku bertanya: 'Apakah engkau mengizinkan aku mengunjungi kedua orang tuaku?' Aisyah menambahkan: 'Aku ingin mengetahui kebenaran berita itu dari mereka berdua.'" Selanjutnya Aisyah berkata: "Rasulullah saw. mengizinkanku pergi. Lalu aku bertanya kepada ibuku: 'Wahai ibuku, apakah yang sedang diperbincangkan orang-orang.' Ibuku menjawab: 'Wahai anakku, tenanglah, demi Allah sesungguhnya sedikit sekali ada seorang wanita cantik jelita di samping seorang laki-laki yang mencintainya, sedangkan laki-laki itu mempunyai beberapa orang istri, kecuali para istrinya itu akan mempergunjingkan istrinya yang cantik itu.' Aisyah berkata: 'Subhanallah, benarkah orang-orang mempergunjingkan masalah ini?'" Aisyah berkata: "Akhirnya aku menangis malam itu sampai pagi. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir dan aku tidak bisa tidur. Kemudian
pada pagi harinya aku masih menangis."
Aisyah berkata: "Lalu Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid pada saat wahyu terlambat turun. Beliau bertanya dan minta pendapat dari mereka berdua tentang masalah jika beliau menceraikan istrinya." Aisyah berkata: "Adapun Usamah, dia memberi isyarat kepada Rasulullah saw. sesuai dengan apa yang dia ketahui mengenai kebersihan diri Aisyah dan apa yang dia ketahui dalam dirinya mengenai para penuduh tersebut." Usamah berkata: "Mengenai istrimu, tidak kami ketahui dia selain sebagai orang yang baik dan bersih." Sementara Ali berkata: "Wahai Rasulullah, Allah tidak membuat kesempitan atasmu, dan wanita selain dia banyak sekali. Jika engkau bertanya kepada budak perempuan itu, tentu dia akan memberimu keterangan yang benar." Aisyah berkata: "Lalu Rasulullah saw. memanggil Barirah. Kemudian beliau bertanya kepadanya: "Hai Barirah, apakah engkau pernah melihat sesuatu yang membuatmu curiga tentang Aisyah? " Barirah menjawab: "Demi yang telah mengutusmu
membawa kebenaran! Jika aku melihat sesuatu padanya, tentu aku tidak akan menyembunyikannya. Dia tidak lebih dari seorang gadis muda yang tertidur di samping adonan roti keluarganya, lalu datang kambing untuk memakannya."
Aisyah berkata: "Lalu Rasulullah saw. bangkit pada hari itu untuk meminta pembuktian dari Abdullah bin Ubay bin Salul. Dari atas mimbar beliau berkata: 'Wahai kaum muslimin, siapakah yang bisa memberi penjelasan kepadaku dan menolongku dari orang yang aku dengar telah mengganggu keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatu mengenai keluargaku selain kebaikan. Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seseorang yang kuketahui baik dan tidak pernah masuk menemui keluargaku (istriku) kecuali bersamaku.'"Aisyah berkata: "Maka berdirilah Sa'ad bin Mu'adz, saudara Bani Abdul Asyhal." Dia berkata: "Aku siap menolongmu, wahai Rasulullah. Jika orang itu berasal dari saudara-saudara kami dari suku Aus akan aku penggal lehernya dan jika dari kalangan Khazraj, maka perintahkanlah kami, dan kami siap melaksanakannya." Aisyah berkata: "Maka berdirilah seseorang dari kalangan Khazraj, dan Ummu Hisan adalah putri paman orang tersebut. Laki- laki tersebut adalah Sa'ad bin Ubadah,
pemimpin Suku Khazra." Aisyah berkata: "Sebelum kejadian itu, ada seorang laki-laki saleh. Akan tetapi dia terdorong oleh panggilan kesukuan dan kejahilan sehingga dia berkata kepada Sa'ad bin Mu'adz: 'Engkau bohong! Demi Allah, kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Seandainya dia berasal dari kelompokmu, pasti kamu tidak suka dia dibunuh.'" Lalu Usaid bin Hudhair --saudara sepupu Sa'ad bin Mu'adz-- berdiri dan berkata kepada Sa'ad bin Ubadah: "Engkau bohong. Demi Allah, kami pasti akan membunuhnya. Kamu adalah orang munafik yang memperdebatkan tentang orang-orang munafik." Aisyah berkata: "Maka terjadilah pertengkaran sengit antara golongan Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh, padahal Rasulullah saw. ketika itu masih berdiri di atas mimbar." Aisyah berkata: "Rasulullah saw. berusaha terus menenangkan mereka. Setelah mereka diam, barulah Rasulullah saw. diam pula." Aisyah berkata: &q uot;Sementara itu aku terus menangis sepanjang
hari. Air mataku tidak mau berhenti mengalir dan mataku tidak bisa tidur." Aisyah berkata: "Pada pagi harinya kedua orang tuaku berada di sampingku, dan aku sudah menangis selama dua malam satu hari. Selama itu pula air mataku tidak berhenti mengalir dan mataku tidak bisa tidur, sehingga aku mengira bahwa tangisanku itu akan membelah hatiku. Ketika kedua orang tuaku duduk di sampingku dan aku masih menangis, tiba-tiba seorang wanita Anshar datang meminta izin kepadaku. Aku pun memberinya izin. Dia ikut pula menangis bersamaku." Aisyah berkata: "Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba Rasulullah saw. masuk ke tempat kami. Beliau mengucapkan salam, kemudian duduk." Aisyah berkata: "Beliau belum pernah di sampingku semenjak munculnya peristiwa yang dipergunjingkan orang-orang itu. Hampir sebulan lamanya tidak sedikit pun wahyu turun mengenai masalahku." Aisyah berkata: "Rasulullah saw. mengucapkan syahadat ketika beliau duduk. Kemud ian beliau berkata: 'Amma ba'du
(selanjutnya). Wahai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku berbagai macam perkataan tentang dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkanmu. Tetapi kalau engkau bersalah, maka mohonkanlah ampunan dari Allah dan bertobatlah kepada-Nya! Sesungguhnya seorang hamba, apabila dia mengakui kesalahannya, kemudian dia bertobat, maka Allah akan menerima tobatnya."
Aisyah berkata: "Setelah Rasulullah saw. berhenti berbicara air mataku berhenti mengalir sehingga tidak ada setetes pun lagi yang aku rasakan. Lalu aku berkata kepada ayahku: 'Jawabkanlah untukku kepada Rasulullah saw. mengenai apa yang beliau katakan itu.'" Ayahku berkata: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw." Lalu aku berkata kepada ibuku: "Jawabkanlah untukku kepada Rasulullah mengenai apa yang beliau katakan itu!" Ibuku juga berkata: "Demi Allah, aku pun tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah." Lalu aku berkata --ketika itu aku adalah seorang yang muda usia dan aku belum banyak membaca Al-Qur'an--: "Demi Allah, aku tahu benar bahwa kalian telah mendengar semua ini sehingga kalian mengakuinya dan membenarkannya. Seandainya aku katakan kepada kalian bahwa aku ini bersih, pasti kalian tidak mempercayaiku. Dan kalau aku mengakui sesuatu perkara kepada kalian, sedangkan All ah mengetahui bahwa aku bersih, tentu
kalian akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh ayah Nabi Yusuf: 'Kesabaran yang baik itu adalah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.' Kemudian aku berpindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi Allah, Dia tabu bahwa diriku saat itu bersih dan Allah akan membuktikan kebersihanku. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menduga bahwa Allah akan menurunkan wahyu yang akan selalu dibaca mengenai masalahku ini. Aku kira persoalanku terlalu remeh untuk dibicarakan oleh Allah 'Azza Wa Jalla dengan wahyu yang diturunkan-Nya. Cuma saja aku berharap semoga Rasulullah saw. melihat dalam mimpi Allah membersihkan diriku dari fitnah itu. Demi Allah, Rasulullah saw. belum lagi meninggalkan tempat duduknya dan tidak seorang pun dari isi rumah yang sudah keluar, Allah sudah menurunkan wahyu kepada beliau. Tampak Rasulullah saw.<> merasa kepayahan seperti biasanya setiap beliau menerima wahyu, hingga keringat beliau menetes bagaikan mutiara (saat itu musim dingin) lantaran hebatnya firman yang diturunkan kepada beliau." Aisyah berkata: "Setelah keadaan seperti itu berlalu dari diri Rasulullah saw., sambil tersenyum perkataan yang pertama sekali beliau ucapkan adalah: 'Wahai Aisyah, bergembiralah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu!'" Aisyah berkata: "Lalu ibuku berkata kepadaku: 'Bangunlah dan pergilah ke tempat beliau!' Aku berkata: 'Demi Allah, aku tidak akan bangun ke tempat beliau. Aku tidak akan memanjatkan puji syukur selain kepada Allah 'Azza Wa Jalla.'" Aisyah berkata: "Allah menurunkan ayat-ayat berikut:
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengarkan berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah )
di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata di waktu mendengar berita bohong itu: 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar. 'Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang sama keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha
Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orangyang beriman, janganlah mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbu at
zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tabulah mereka bahwa Allah yang Maha Benar lagi yang (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)." (an-Nur: 11-26)
Allah menurunkan ayat-ayat yang menyatakan kebersihanku. Abu Bakar yang semula selalu memberi nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan: 'Demi Allah, aku tidak akan lagi memberi nafkah kepada Misthah sedikit pun selamanya sesudah apa yang dia katakan terhadap Aisyah.' Sebagai teguran atas ucapan itu Allah menurunkan ayat berikut:
"Dan janganlah orang-orangyang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat mereka, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?"
Abu Bakar menjawab: "Tentu, demi Allah, tentu saja aku ingin sekali ampunan dari Allah." Lalu Abu Bakar kembali memberikan nafkah kepada Misthah seperti sediakalanya. Dia berkata: "Aku tidak akan berhenti memberinya nafkah selama-lamanya."
Aisyah berkata: "Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy mengenai persoalanku ini. Beliau berkata kepada Zainab: 'Apa yang engkau ketahui' atau 'yang engkau lihat.'" Zainab berkata: "Ya Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, tiada yang kuketahui selain yang baik saja." Aisyah berkata: "Padahal Zainab adalah seorang di antara para istri Rasulullah saw. yang selalu berlomba denganku untuk merebut hati Rasulullah saw. Tetapi Allah telah menjaganya dengan sifat wara (jauh dari maksiat)." Aisyah berkata: "Sementara saudara perempuannya, Hamnah, bertolak belakang dengannya. Dia ikut menyebarkan berita bohong itu, sehingga dia celaka bersama orang-orang yang celaka."
Aisyah berkata: "Demi Allah, sesungguhnya lelaki yang dituduh berbuat macam-macam itu hanya berkata: 'Subhanallah, demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku sama sekali belum pernah membuka pakaian wanita.'" Aisyah berkata: "Akhirnya sesudah peristiwa itu dia mati syahid karena berperang di jalan Allah." (HR Bukhari dan Muslim)304
----------------------------------------------------------
Kebebasan Wanita (Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah)
Abdul Halim Abu Syuqqah
Penerjemah: Drs. As'ad Yasin
Juni 1998
Penerbit Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388
fwd from media.isnet.org

Teologi Ramah Bumi

fwd from Suara Karya, Kamis, 15 Fabruari 2007
Teologi Ramah Bumi
Oleh Ismatillah A Nuad

Bencana silih berganti menimpa negeri ini, mulai dari banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung dan aneka bencana lainnya. Polemik teologi kemudian merebak di masyarakat. Para penceramah lalu mencari-cari jawabannya dengan mempertanyakan fenomena bencana tersebut dengan mempergunakan teologi.
Namun, para penceramah itu lebih banyak menggariskan pada teologi paksaan Tuhan (jabariah), yang menyatakan bahwa Tuhan tengah murka pada penduduk negeri ini pandai membuat dan memelihara dosa-dosa.
Pandangan teologi jenis itu sebenarnya sangat berbahaya untuk dipelihara dalam iman masyarakat. Karena Tuhan akan dipersalahkan sebagai biang dari segala bencana. Atau dalam bahasa Gottfried Leibniz (Roth, 2003:151), Tuhan seakan-akan duduk di kursi pesakitan menjadi terdakwa (blaming the God), sebagai akibat terjadinya bencana-bencana di dunia.
Meski akhirnya, Emmanuel Kant merevisi pandangan itu secara lebih rasional lagi dalam Critique of Practical Reason. Kant berpandangan bahwa Tuhan tak patut dipersalahkan atas segala bencana, bahkan kemuliaan dalam eksistensi-Nya tak terpengaruh dengan adanya dosa-dosa atau kebaikan-kebaikan di dunia. Manusialah yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi di dunia.
Pandangan teologi yang berseberangan dengan jabariah, atau teologi yang lebih menekankan pada kehendak bebas manusia (qadariah), sebetulnya lebih relevan untuk menjelaskan segala bencana itu. Relevan bukan sebatas penjelasannya yang adil dan bijaksana dalam menempatkan kodrat manusia, yang dihubungkan dengan alam atau lingkungannya dan di sisi lain dengan keberadaan bencana itu.
Teologi qadariah juga relevan. Sebab dapat menghindarkan manusia dari mitologi-mitologi sosial yang biasanya merebak dan akhirnya membawa pada kesesatan dan kegelapan alam pikiran manusia dalam melihat segala bencana.
Teologi itu pada prinsipnya ingin menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak untuk berbuat sebebas-bebasnya (free will). Dia harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang sudah diperbuatnya.
Karena perbuatan manusia yang dilakukan atas alam dan lingkungan, seperti pembangunan yang tak terkontrol dan tak terencana secara matang, pengeboran atas kekayaan perut bumi yang semena-mena dan pengerukan pasir laut-dalam skala yang cukup massif. Segala tindakan dan perbuatan itulah yang kemudian lambat laun akan membuat murka alam dan lingkungan ini, sehingga segala bencana itu tak bisa terhindarkan lagi.
Hal itu sesungguhnya tersirat dalam kitab suci, yang secara bebas berbunyi bahwa kerusakan di darat dan di laut yang tampak itu disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Maka sebagai akibat dari perbuatannya (ditimpakanlah bencana), supaya manusia merasakan sebagian dari ulah dan perbuatannya itu agar mereka kembali ke jalan yang benar (al-Quran, 30:41).
Jelaslah bahwa segala bencana itu tak lain dan tak bukan karena sebenarnya diakibatkan oleh kita sendiri, sebagai manusia. Banyak dari kita yang tidak bertanggung jawab terhadap pengelolaan alam dan lingkungan ini.
Berhentilah kita menyalahkan sesuatu yang ada di luar kita, misalnya, Tuhan. Bahkan menurut Ignaz Goldziher (1991), karena ulah tangan manusia itu sendiri, maka manusia pun sesungguhnya dilarang untuk menyalahkan setan sekalipun. Setan menolak dimintai pertanggungjawabann

ya pada hari akhir, karena kesalahan dan dosa perbuatan manusia.
Hassan Hanafi dalam karyanya Religion, Ideology, and Developmentalism (1990) menawarkan apa yang dikenal sebagai teologi untuk memperlakukan bumi ini. Bagaimana semestinya bumi ini diperlakukan? Menurut Hanafi, bumi merupakan ciptaan Tuhan yang harus dikelola manusia secara baik dan benar.
Tak ada satu pun manusia yang sesungguhnya berhak mengklaim memiliki barang sejengkal pun di muka bumi ini, karena bumi ini adalah milik-Nya. Oleh karenanya, tak dibenarkan jika ada manusia yang arogan, ketika merasa memiliki tanah di bumi ini.
Arogansi dalam pengertian, misalnya, ketika manusia merasa memiliki jengkal tanah di bumi, lalu dia berbuat seenaknya sendiri; mengebor, mengeruk, mengeksploitasi, tanpa memikirkan apa akibatnya.
Sudah saatnya manusia kembali pada ajaran, jalan dan cara berpikir yang benar, yang sesuai dengan akidah serta kaidah yang rasional. Teologi selama ini sangat jarang diperkenalkan oleh para penceramah keagamaan melalui pendekatan yang direlevansikan dengan alam dan lingkungan.
Seakan-akan tak ada kaitan antara teologi keagamaan dan alam serta lingkungan. Jarang umat beragama menyentuh persoalan itu. Padahal sesungguhnya sebagai konsekuensi dari teologi itu, umat beragama semestinya mengimplementasikannya ke seluruh aspek dalam kehidupan, tak terkecuali pula dengan masalah-masalah alam dan lingkungannya (environmentalism).
Pada tahun 1902, seorang filsuf dari Amerika, William James, meluncurkan karya berjudul The Variety of Religious Experience. Dia mengatakan, sesungguhnya implementasi dari teologi agama itu harus dibuktikan dalam kehidupan nyata. Iman itu, menurutnya, harus diaktualisasi secara konkret dan faktual, bukan hanya sebatas yakin dan percaya kepada Tuhan. Namun, harus ada bukti dari keimanan kepada Tuhan itu?
Jika selama ini kita menganggap diri kita sebagai kaum beragama, maka sudah semestinya teologi agama kita tak hanya cukup sampai pada keyakinan, namun sampai pada aktualisasi dalam kehidupan. Kita mengaku orang beragama, tapi perbuatan kita masih mencemari polusi udara, membuang sampah sembarangan, mengeksploitasi bumi secara semena-mena, dan sebagainya.
Perbuatan dan tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh orang beragama. Saatnya kita membumikan teologi agama ini dalam realitas dan praksis kehidupan. Agama yang mengajarkan kebaikan itu harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehingga pada akhirnya kita akan dapat terhindar dari segala marabahaya dan bencana ini.***


Penulis adalah seorang penulis buku dan salah satunya berjudul
Fundamentalisme Progresif: Menuju Era Baru Dunia Islam

METODA KEPAHLAWANAN

Ada tiga metoda dasar untuk menjadi pahlawan. Pertama, ungkapkan sesuatu yang kritis namun tidak sampai ke tingkat berbahaya, sehingga bisa dimuat di koran. Kedua, kurangi kadar kesaktianmu di dalam melakukan gerakan-gerakan sosial, sehingga engkau bisa ditangkap atau ditabrak oleh kekuasaan. Ketiga, dekatkan dirimu kepada jaringan hero maker, alias lembaga pencipta pahlawan.

Kalau kau omong apa adanya, media tidak akan memuatnya, sehingga semua orang menganggapmu tidak berani omong apa-apa. Kalau gerakan sosialmu tidak tersentuh, engkau tidak akan terdaftar sebagai orang yang ditindas, sehingga tidak akan dibela oleh siapapun.

Tetapi yang alhamdulillah adalah kalau engkau tidak ingin menjadi pahlawan dan eksistensimu tidak bergantung pada apapun. Harkat kemanusiaan dan harga dirimu hanya ditentukan oleh tingkat manfaat kemanusiaanmu, baik diketahui oleh manusia ataupun tidak, baik diungkapkan atau tersembunyi. (EAN/1999)

Medan Pertarungan

fwd from KOMPAS, Kamis, 08 Februari 2007
Medan Pertarungan
Franciscus Welirang

Sebagai pelaku ekonomi, globalisasi cenderung saya pahami sebagai jebakan. Ketika ketetapan tentang standardisasi dan spesifikasi produk digulirkan, misalnya, mungkin niat awalnya murni, yaitu untuk menjaga kualitas barang yang diproduksi demi kepentingan konsumen.
Namun, bersamaan dengan niat itu, ibarat mata pisau, standardisasi juga bisa membunuh lawan yang lemah.
Dalam konteks ini, standardisasi bukan saja digunakan sebagai alat politik (jebakan) oleh negara maju guna menolak produk-produk negara berkembang, tetapi juga bisa digunakan untuk memaksa negara berkembang menjalankan sistem keuangan dan hukum sesuai standar yang dikehendaki negara-negara maju.
Itu artinya, sistem ISO yang menjadi salah satu bendera ekonomi multilateral (WTO) sebenarnya tak lebih dari sebuah strategi perang.
Bahkan dalam tingkat tertentu, masalah ISO dapat disejajarkan dengan isu HAM dan lingkungan hidup yang sering digunakan negara-negara maju untuk menekan negara-negara lain, terutama negara-negara sedang berkembang.
Medan pertarungan
Karena sistem ekonomi global tidak bebas dari berbagai kepentingan negara-negara maju; dan ibarat dinding, merupakan dinding tinggi dan tebal, pembalikan cara pikir mengenai negara-negara tujuan ekspor tampaknya perlu segera dilakukan pelaku ekonomi Indonesia.
Selama ini kita cenderung berfokus pada negara-negara maju sebagai tujuan ekspor. Padahal secara rasional, medan pertarungan riil sebenarnya ada di tempat lain, yaitu di negara-negara yang sedang berkembang dan belum berkembang, bukan di negara-negara maju.
Jika dicermati secara saksama, pasar negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, dan Singapura, sebenarnya cenderung stagnan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator seperti pertumbuhan penduduk yang rendah (bahkan nol atau negatif), usia rata-rata penduduk yang cenderung dewasa dan tua, serta penghasilan yang tinggi.
Dengan teknologi dan industri yang maju, mereka mensyaratkan hanya barang-barang berkualitas tinggi yang bisa dijual di negara mereka. Secara obyektif persyaratan itu tentu sulit dipenuhi para pengusaha negara-negara berkembang, termasuk pengusaha kita. Dari sisi teknologi dan sumber daya manusia, kita masih keteteran.
Sebaliknya, pasar negara-negara sedang berkembang, seperti Thailand dan Malaysia, tumbuh pesat dan besar. Dengan pertumbuhan penduduk 1 persen-2 persen per tahun dan dominasi penduduk usia muda, negara-negara berkembang merupakan medan pertarungan yang memungkinkan bagi produk Indonesia.
Selera pasar, baik dalam hal rasa dan kualitas, relatif seimbang di antara negara-negara sedang berkembang. Sedangkan dominasi usia muda di negara-negara ini secara alami merupakan simbol dari keinginan untuk coba-coba.
Singkatnya, negara-negara sedang berkembang adalah medan pertempuran yang moderat yang masih mungkin dimenangkan para pelaku ekonomi Republik.
Medan pertarungan yang paling baik tentu ada di negara-negara yang belum berkembang, yang sebagian besar tersebar di Afrika. Hal itu disebabkan penduduknya tumbuh di atas 2 persen dan upah mereka secara umum masih rendah.
Realitas sosial-ekonomi ini memerlukan hasil produk yang dari sisi mutu belum menjadi tuntutan utama dan dari sisi harga terjangkau. Kualitas produk yang demikian tentu dapat dengan mudah dipenuhi para pelaku usaha Indonesia.
Mengubah paradigma
Hanya dengan mengubah paradigma berpikir dari orientasi membidik negara-negara berkembang dan kurang berkembang, kita bisa menghindar dari jebakan globalisasi dan memenangkan pertempuran. Sejujurnya, pelaku usaha dan industri di Republik paham tentang hal itu. Namun, pemerintah sejauh ini belum memberi arah kebijakan nasional yang jelas.
Kebijakan industri belum terfokus pada strategi substitusi (substitute strategy), produk-produk setengah jadi (semi-processed products), komponen dan bahan mentah (raw material), terutama hasil pertanian dan perkebunan.
Maka, keputusan politik mengenai hal itu harus segera dilakukan. Pemerintah, dunia usaha dan industri harus duduk bersama menentukan fokus arah kebijakan ekspor nasional. Tanpa langkah itu, ibarat maju ke medan pertempuran, pelaku usaha tidak dibekali peralatan memadai. Kalaupun bisa menang, itu lebih disebabkan faktor kenekatan dan keberuntungan daripada kalkulasi profesionalisme.
Memang, apa pun keadaannya, pelaku usaha akan jalan terus dengan mengembangkan produk-produk ekspor dengan standar mutu yang pas bagi pasar negara-negara berkembang.

Franciscus Welirang Pelaku Ekonomi

RW KESEDIHAN RT KEBUNTUAN

Kalau kita sudah berada di pinggir sungai, atau apalagi sudah terlanjur memasukkan kaki ke tepiannya, kayaknya harus kita perjelas apa niat kita yang sebenarnya. Apakah kita memang akan menyeberangi sungai, ataukah sekedar mau bermain-main air di tepian sungai. Kalau mau menyeberangi sungai, sebaiknya kita pilih apakah akan kita gunakan perahu, jembatan, gethek, ataukah kita akan melompat untuk sampai ke seberang sungai. Kita juga harus perhitungkan berapa lebar dan berapa dalam sungai, apa kendala dan tantangan ketika menyeberangi sungai, dan seterusnya.

Kalau ketentuan dan pilihan itu tidak kita lakukan, sebaiknya kita niati saja bermain-main air, sekedar untuk belajar berenang dan mengendalikan perahu. Jangan sampai orang-orang di sekitar sungai menyangka kita akan benar-benar menyeberang dan menanti-nanti kapan kita benar-benar tiba di seberang sungai. Orang-orang itu bertempat tinggal di kampung kekecewaan, di RW kesedihan, dan mungkin juga di RT kebuntuan. Kalau bisa jangan lagi kita tambahi KTP mereka dengan Rumah Keputusasaan. (EAN/1999)

Kita ini Bangsa Keledai?

fwd from Pikiran Rakyat, Kamis, 08 Februari 2007
Kita ini Bangsa Keledai?
Oleh SUWARDJOKO P. WARPANI

SAYA bingung, bangsa kita ini lebih bodoh dari pada keledai atau lebih dungu; atau saya yang paling bebal di antara berjuta anak bangsa. Konon, seekor keledai tak akan pernah terperosok di lubang yang sama, sedangkan kita bukan tidak pernah, tetapi seringkali terperosok (atau memerosokkan diri) justru di lubang yang sama. Sangat aneh bukan? Dengan bahasa yang lebih halus, kita tak pernah mau belajar dari pengalaman, kecuali harus mengalami lebih dahulu; itu pun belum tentu cukup menjadi pelajaran bahkan setelah beberapa kali mengalaminya.
Mengapa kita harus belajar dari A padahal A sampai P bisa kita pelajari dari pengalaman orang lain, sehingga kita bisa memulai dari titik Q? Keledai pun bisa menghindar dari lubang yang sama. Banyak sekali kebijakan kita berkesan tak bisa belajar dari pengalaman masa lampau. Dalam mengatasi akibat bencana, kita selalu seperti tergagap-gagap, seperti baru pertama kali mengalaminya, seperti salah tingkah, dan yang paling "istimewa" adalah hampir selalu melemparkan tanggungjawab kepada pihak lain, bahkan sering kepada "alam semesta" yang tak kuasa membela dengan kata.
Alam murka karena kita memanfaatkannya tanpa "cinta". Ruang hijau dikalahkan oleh bangunan beton, situ/rawa dianggap tak ekonomis lantas ditimbun menjadi daratan yang laku jual dan laris, bantaran sungai "diserbu" menjadi permukiman, sungai menjadi ciut dan dangkal; permukaan resapan air di perkotaan nyaris habis dilanda kepentingan bisnis.
Banjir dan Pariwisata
Banjir Jakarta mengimbas sektor pariwisata Bandung (PR, 5 Feb. 2007). Kata salah seorang karyawan toko oleh-oleh khas Bandung omzet penjualannya turun hingga 90%. Inilah penggunaan bahasa yang kurang cermat sehingga bermakna ganda. Siapa yang bisa memastikan; jualannya berkurang 10% atau tinggal 10% ? Struktur bahasa seperti ini juga yang kerap menjebak kita pada saat melihat potongan harga suatu produk/barang di toko; yang ditulis ialah "diskon hingga 75%".
Bila yang terjadi omzet jualannya tinggal 10 %, sungguh penurunan yang drastis dan sangat fantastis. Katakanlah makna pertama yang dimaksud, jualannya hanya berkurang 10%, itu pun sudah besar artinya. Banjir Jakarta berimbas pada jualan oleh-oleh. Lho, kok bisa ? Bukan `mungkin' karena Jakarta banjir, melainkan `dapat dipastikan' karena Jakarta banjir; itulah yang terungkap dari pernyataan Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, H. Moh. Askary, dan sangat masuk akal. Bahwa sejumlah orang Jakarta yang bermaksud berakhir pekan di Bandung telah membatalkan atau menunda kepergiannya, juga sangat mudah dipahami. Sektor pariwisata Jawa Barat, khususnya Bandung, terkena imbas banjir Jakarta.
Di sisi lain, Jawa Barat menuai berkah banjir. Orang-orang berduit yang rumahnya terlanda banjir mengungsi. Mereka tidak mengungsi ke jalan tol, tetapi hengkang melalui jalan tol mencari hotel sesuai dengan seleranya. Yang terdekat adalah Jawa Barat dan Banten. Belum ada penelitian seberapa besar dampaknya terhadap sektor perhotelan, namun keluarga Jamal Mirdad pasti tidak mengungsi ke tenda di lapangan terbuka. Menurut info, Kak Seto pun ngungsi di hotel.
Di banyak negara, bantaran sungai dapat menjadi arena wisata yang nyaman dan menyenangkan, bahkan kanal-kanal di Belanda dapat menjadi jalur wisata yang menghasilkan uang dan kesempatan kerja. Masyarakat turut memelihara karena mereka menyadari fungsi bantaran sungai tersebut bagi kehidupan dan penghidupan mereka. Sangat berbeda dengan bantaran sungai di kota-kota kita, khususnya Jakarta sebagai ibukota negara, pintu gerbang wisata, wajah depan negara, dan entah berapa puluh lagi atribut yang disandang Jakarta, tetapi bantaran sungai-sungainya, kotor, jorok, kumuh, serta tak sedap baunya.
Sungai-sungai di Jakarta meluap jauh melampaui daya tampungnya karena hujan, ditambah air "kiriman" dari daerah hulu, plus saluran tersumbat dan permukaan resapan banyak yang raib. Salah satu daerah hulunya adalah Bandung. Jadi, berkurangnya orang Jakarta yang berakhir pekan di Bandung, sedikit banyak adalah akibat saham daerah Bandung juga, dan semua penduduk di sepanjang aliran sungai yang kemudian mengalir di wilayah DKI. Hulu sungai-sungai itu ada di Jawa Barat dan Banten.
Menurut Gubernur DKI, banjir ini adalah bencana periodik lima tahunan. Artinya, setiap lima tahun dapat dipastikan terjadi dan sekurang-kurangnya kita sudah tahu sejak lima tahun yang lalu. Sayang, upaya selama lima tahun yang lalu --kalau ada-- rupa-rupanya masih jauh dari memadai.
Masyarakat pun tampaknya adem ayem selama lima tahun yang lalu. Kebiasaan buang sampah seenaknya masih menjadi pemandangan sehari-hari, bantaran sungai tetap saja ditempati atas nama ketiadaan lahan dan kemiskinan. Pembangunan (pengalihan guna lahan) jalan terus tanpa Amdal, industri tetap saja mengotori badan air, tanah, dan udara. Otomotif terus berkembang tanpa hirau pada persediaan BBM, pencemaran udara dan suara, tingkat kecelakaan, dsb. Sekarang kita amat sulit mengenali wajah polisi karena hidung dan mulutnya tertutup masker, apalagi bila mengenakan kacamata hitam yang lebar.
Tata ruang wilayah
Perkembangan fisik Jakarta telah "meluap" dan tumpah melimpah di Jawa Barat dan Banten. Maka volume penglaju dari Jawa Barat dan Banten ke Jakarta sangat besar dengan akibat kemacetan lalu-lintas yang terjadi setiap hari.
Persoalan lain adalah pembangunan perumahan skala besar oleh para pengembang cenderung hanya mengejar keuntungan bisnis dan mengabaikan keselamatan lingkungan. Namanya juga bisnis, jadi pola dasarnya tentu mencari laba sebesar-besarnya. Bukan semata-mata salah mereka bila sepak terjangnya memanfaatkan kelemahan kontrol dan mencari celah kelemahan perundang-undangan yang ada.
Tidak kalah penting fungsinya ialah pembangunan di daerah hulu. Dari sini saja tampak --dan tak ada satu pun orang yang tidak tahu-- bahwa tata ruang wilayah suatu daerah jangkauannya melampaui batas wilayah administrasi pemerintahan. Tata ruang wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, bahkan lebih luas lagi, tidak dapat dilihat terpisah-pisah. Yang bisa dipisahkan ialah tanggungjawab administrasi kepemerintahan.
Penyebab banjir Jakarta ditimpakan kepada Jawa Barat dan Banten tentu tidak sepenuhnya benar, Jawa Barat dan Banten pun tidak bisa serta merta `cuci tangan'. Bandung pun yang berada di dataran tinggi juga dilanda banjir. Aneh tapi nyata dan juga terjadi setiap tahun. Musim kemarau, air PAM macet karena rendahnya debit air, sawah merana karena kekeringan, sedangkan di musim hujan kelimpahan air tidak terkendali. Kita miskin manajer air.
Tidak taat pada rencana tata ruang itulah kata kunci yang pelan-pelan mulai disadari. Sayangnya belum tentu dituruti oleh yang kebetulan sedang menduduki kursi penentu kebijakan. Wilayah hulu adalah satu wilayah pengunungan yang, nota bene, berada di bawah naungan beberapa daerah otonom (wilayah administrasi pemerintahan)

, menyandang fungsi ekologi lingkungan bagi wilayah di bawahnya. Wilayah ini tidak dapat diiris-iris lantas dibangun sesuai dengan selera masing-masing daerah atas nama otonomi. Bayangkan, di Indonesia, setiap menit 5,3 ha hutan rusak; lahan kritis di Kab. Bandung mencapai 17.000 ha (PR, 5Feb. 2007).
Semangat yang sekarang sedang mencuat ke permukaan adalah semangat pemekaran daerah. Pemekaran daerah harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat ditinjau dari berbagai aspek. Yang amat terasa kini, pemekaran daerah hanya untuk memperluas peluang jabatan. Untuk tujuan memakmurkan masyarakat, masih perlu dikaji ulang. Sangat terbuka untuk perdebatan panjang.
Tidak semua daerah perlu dimekarkan, apalagi "pemekaran daerah" selalu bermakna pada "penciutan wilayah" dan muaranya pada pembagian sumber daya daerah. Sementara itu, pejabat dan para wakil partai yang harus 'dihidupi' dari daerah yang semakin ciut wilayahnya justru bertambah.
Kesimpulan
Daerah otonom bukan berarti daerah tertutup semacam "negara" di dalam negara yang mempunyai kewenangan dan hak tak terbatas dalam mengatur tata ruang wilayahnya. Koordinasi adalah kata indah dengan harga mewah, tampaknya hanya mungkin dilaksanakan di negara tetangga kita, yakni Republik BBM. Semua orang, baik pejabat maupun awam, paham benar makna koordinasi dan mendambakannya. Namun sungguh amat sangat sulit melaksanakan koordinasi di negara RI. Otda bukannya meningkatkan kemampuan pembangunan melainkan justru malah menjauhkan koordinasi, meningkatkan arogansi sektoral dan kedaerahan, dan yang lebih parah lagi adalah merangsang nafsu pemekaran daerah.
Menhut, Ka'ban mengingatkan, "Kini bukan saatnya berdebat tentang otoritas, melainkan harus bersinergi antara semua pihak dengan tujuan yang sama". Yang dimaksud tentunya kesejahteraan masyarakat secara luas.
Wilayah perbatasan yang memiliki karakter geografis homogen tak dapat diiris-iris seperti kue serabi dibagi-bagi dan dimakan sendiri-sendiri. Wilayah itu harus ditangani bersama, dikelola bersama, diperlakukan sama untuk kepentingan bersama yang lebih luas jangkauannya; bukan harus sesuai dengan selera daerah masing-masing. Sekali lagi, kepentingan bersama, bukan selera (penentu kebijakan) daerah.
Belakangan disadari bahwa ada yang salah dengan pembangunan Jakarta. Ruang hijau dilabrak pembangunan, situ ditimbun, bahkan rawa pun ditimbun. Jalan tol Sedyatmo dengan konstruksi cakar bangau menjadi tidak berfungsi dengan baik karena rawa tempat sang bangau bertengger sudah menjadi kawasan daratan Pantai Indah Kapuk. Jalan Sedyatmo merosot turun dengan akibat yang sudah menjadi rahasia umum. Yang salah ya kita semua, karena membangun bukan di atas landasan kepentingan kesejahteraan rakyat, melainkan melulu di atas landasan politik.
Penyelesaiannya tidak begitu mudah meskipun jelas di depan mata. Tambah ruang terbuka hijau, bangun waduk, dan perbanyak situ. Lantas yang di hulu jangan main babat hutan dan membangun yang berakibat air mudah lari ke hilir. Jelas tidak mudah karena arogansi sektoral dan kedaerahan yang menjadi kendala utama koordinasi, plus politikus yang berkeliaran di semua jenjang proyek.
Marilah kita hidup cinta lingkungan, agar lingkungan mencintai kita, agar penduduk di hilir tidak menderita, agar mereka dapat berwisata di daerah hulu (pegunungan), agar pariwisata tetap bisa diandalkan, agar orang kota di pesisir tetap bisa tenang "naar boven" setiap akhir pekan dan liburan.***

Penulis, dosen Program Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, Itenas, dan Unikom Bandung.

GUGUR GUNUNG

Gugur gunung itu artinya bersama-sama orang sekampung bekerja bareng-bareng untuk memperbaiki segala yang perlu diperbaiki di kampung. Dari merapikan pagar sampai menata kembali parit-parit saluran air dan lain sebagainya.

Hari-hari ini kampung saya sedang mbembet, saluran air mampet-mampet, distribusi kesejahteraan nggak karu-karuan, lumbung kami kosong, kebun-kebun kami terbakar, sawah-sawah kami terbengkalai, lumbung kami kosong mlompong, hutang kami numpuk menyaingi tingginya gunung.

Ada pemimpin idola kami yang mencoba mengatasi itu semua, namun anehnya beliau tidak keliling kampung untuk mengajak sebanyak mungkin penduduk kampung untuk memperbaikinya. Beliau hanya menyapa beberapa penduduk yang tergolong terhormat dan priyayi.

Kami-kami yang kurang terhormat dan bukan priyayi tidak diajak memperbaiki saluran parit, padahal tangan kami sudah pegal-pegal untuk ikut memperbaiki kampung.