Friday, March 09, 2007

Medan Pertarungan

fwd from KOMPAS, Kamis, 08 Februari 2007
Medan Pertarungan
Franciscus Welirang

Sebagai pelaku ekonomi, globalisasi cenderung saya pahami sebagai jebakan. Ketika ketetapan tentang standardisasi dan spesifikasi produk digulirkan, misalnya, mungkin niat awalnya murni, yaitu untuk menjaga kualitas barang yang diproduksi demi kepentingan konsumen.
Namun, bersamaan dengan niat itu, ibarat mata pisau, standardisasi juga bisa membunuh lawan yang lemah.
Dalam konteks ini, standardisasi bukan saja digunakan sebagai alat politik (jebakan) oleh negara maju guna menolak produk-produk negara berkembang, tetapi juga bisa digunakan untuk memaksa negara berkembang menjalankan sistem keuangan dan hukum sesuai standar yang dikehendaki negara-negara maju.
Itu artinya, sistem ISO yang menjadi salah satu bendera ekonomi multilateral (WTO) sebenarnya tak lebih dari sebuah strategi perang.
Bahkan dalam tingkat tertentu, masalah ISO dapat disejajarkan dengan isu HAM dan lingkungan hidup yang sering digunakan negara-negara maju untuk menekan negara-negara lain, terutama negara-negara sedang berkembang.
Medan pertarungan
Karena sistem ekonomi global tidak bebas dari berbagai kepentingan negara-negara maju; dan ibarat dinding, merupakan dinding tinggi dan tebal, pembalikan cara pikir mengenai negara-negara tujuan ekspor tampaknya perlu segera dilakukan pelaku ekonomi Indonesia.
Selama ini kita cenderung berfokus pada negara-negara maju sebagai tujuan ekspor. Padahal secara rasional, medan pertarungan riil sebenarnya ada di tempat lain, yaitu di negara-negara yang sedang berkembang dan belum berkembang, bukan di negara-negara maju.
Jika dicermati secara saksama, pasar negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, dan Singapura, sebenarnya cenderung stagnan. Hal ini bisa dilihat dari beberapa indikator seperti pertumbuhan penduduk yang rendah (bahkan nol atau negatif), usia rata-rata penduduk yang cenderung dewasa dan tua, serta penghasilan yang tinggi.
Dengan teknologi dan industri yang maju, mereka mensyaratkan hanya barang-barang berkualitas tinggi yang bisa dijual di negara mereka. Secara obyektif persyaratan itu tentu sulit dipenuhi para pengusaha negara-negara berkembang, termasuk pengusaha kita. Dari sisi teknologi dan sumber daya manusia, kita masih keteteran.
Sebaliknya, pasar negara-negara sedang berkembang, seperti Thailand dan Malaysia, tumbuh pesat dan besar. Dengan pertumbuhan penduduk 1 persen-2 persen per tahun dan dominasi penduduk usia muda, negara-negara berkembang merupakan medan pertarungan yang memungkinkan bagi produk Indonesia.
Selera pasar, baik dalam hal rasa dan kualitas, relatif seimbang di antara negara-negara sedang berkembang. Sedangkan dominasi usia muda di negara-negara ini secara alami merupakan simbol dari keinginan untuk coba-coba.
Singkatnya, negara-negara sedang berkembang adalah medan pertempuran yang moderat yang masih mungkin dimenangkan para pelaku ekonomi Republik.
Medan pertarungan yang paling baik tentu ada di negara-negara yang belum berkembang, yang sebagian besar tersebar di Afrika. Hal itu disebabkan penduduknya tumbuh di atas 2 persen dan upah mereka secara umum masih rendah.
Realitas sosial-ekonomi ini memerlukan hasil produk yang dari sisi mutu belum menjadi tuntutan utama dan dari sisi harga terjangkau. Kualitas produk yang demikian tentu dapat dengan mudah dipenuhi para pelaku usaha Indonesia.
Mengubah paradigma
Hanya dengan mengubah paradigma berpikir dari orientasi membidik negara-negara berkembang dan kurang berkembang, kita bisa menghindar dari jebakan globalisasi dan memenangkan pertempuran. Sejujurnya, pelaku usaha dan industri di Republik paham tentang hal itu. Namun, pemerintah sejauh ini belum memberi arah kebijakan nasional yang jelas.
Kebijakan industri belum terfokus pada strategi substitusi (substitute strategy), produk-produk setengah jadi (semi-processed products), komponen dan bahan mentah (raw material), terutama hasil pertanian dan perkebunan.
Maka, keputusan politik mengenai hal itu harus segera dilakukan. Pemerintah, dunia usaha dan industri harus duduk bersama menentukan fokus arah kebijakan ekspor nasional. Tanpa langkah itu, ibarat maju ke medan pertempuran, pelaku usaha tidak dibekali peralatan memadai. Kalaupun bisa menang, itu lebih disebabkan faktor kenekatan dan keberuntungan daripada kalkulasi profesionalisme.
Memang, apa pun keadaannya, pelaku usaha akan jalan terus dengan mengembangkan produk-produk ekspor dengan standar mutu yang pas bagi pasar negara-negara berkembang.

Franciscus Welirang Pelaku Ekonomi

No comments: