fwd from KOMPAS, Senin, 19 Februari 2007
Pertanian di Sawah, Sebuah Antiklimaks?
Sjamsoe’oed Sadjad
Kalau saya katakan sebagai "pemberontakan" petani padi sawah, bisa-bisa marah karena membesar-besarkan masalah. Lebih aman disebut "kejengkelan" petani sajalah.
Siapa yang tidak jengkel, merasa sudah bekerja berat di sawah, hasilnya harus dijual murah kalau dibandingkan dengan harga barang yang lain. Harga bahan bakar minyak bisa naik 100 persen lebih, gabah petani hanya naik berapa persen. Itu pun kalau tidak turun malah.
Jengkel kepada siapa? Kepada pemerintah? Untuk apa? Tepatnya, jengkel kepada dirinya sendiri, ya petani sendiri. Akhirnya petani mencari jalan keluarnya sendiri.
Pupuk mahal, ya jangan beli pupuk. Pestisida mahal, ya jangan dibeli. Benih mahal, ya kurangi saja kebutuhan benih. Hebat, bukan? Petani bisa memenuhi seruan Menko Perekonomian yang dulu, bukan? Elpiji mahal, ya jangan beli. Minyak tanah mahal, ya ganti kayu bakar, dan seterusnya; sampai- sampai "susah bensin, ya jalan kaki" (jangan coba-coba disingkat, lho!).
Kebetulan ada yang memelopori gagasan pertanian organik dengan dalih memelihara tanah tetap sehat. Demikian juga mengetahui produk-produk pertanian organik di pasar bisa mendapat harga lebih tinggi, apalagi kalangan pengairan PU menyemarakkan hemat air di sawah padi, petani di sebuah desa yang relatif penghidupannya sudah mapan, lalu bersedia bereksperimen.
Keinginannya besar, seperti menciptakan pupuk organik cair, mempercepat busuknya sampah di sekitar rumahnya yang dilempar ke sawahnya, menanggulangi hama dengan pestisida buatan sendiri, mendorong musuh hama untuk berkembang di sawahnya sehingga bisa mengalahkan hama yang menyerang padi, menggunakan benih seminim mungkin.
Pendek kata, serba emoh terhadap barang pabrik serba inorganik yang harus dibelinya. Hebatnya lagi, lalu dianggapnya semua itu hanya menjadikan mereka-mereka lebih kaya lagi, sedangkan petani di desa tetap seperti begitu-begitu saja.
Mereka lalu mengatakan kembali ke "benih organik" yang tidak lain varietas-varietas lokal seperti padi rojolele, dan lain-lain. Kontras sekali dengan varietas-varietas padi modern yang berpotensi produksi tinggi dengan input pupuk yang tinggi seperti selama ini dianjurkan oleh agropolitik pemerintah demi mencapai kecukupan beras untuk mengamankan situasi pangan kita secara makronasional.
Memang menggembirakan kalau petani dan masyarakat banyak berkreasi, berupaya mandiri dengan berbagai inovasinya. Tidak selalu menggantungkan kepada pemerintah, misalnya. Apalagi kalau upayanya itu bisa memberikan kesejahteraannya.
Namun, berhadapan dengan sawah organik itu tentunya perlu diperhatikan juga tipe-tipe tanah yang dihadapi. Ada yang strukturnya ringan dan ada yang berat. Dengan membuat tanah sawah itu berstruktur lumpur, sedikit banyaknya itu memang disengaja agar air bisa ditahan untuk kepentingan pertumbuhan padi.
Tentu tanah umumnya memerlukan bahan organik supaya strukturnya tetap sehat, organisme mikro bisa tumbuh baik, dan tanaman berkecukupan unsur mikro. Tetapi, tanaman tetap memerlukan unsur makro.
Keseimbangan antara kedua kebutuhan unsur hara itu menghasilkan pertanian berkelanjutan (sustainable farming) yang kalau diberi input modern akan bisa meraih produksi yang maksimum tinggi, sedangkan kalau pertanian organik (organic farming) barangkali hanya sekadar produksi moderat.
Pandangan seperti itu bisa jadi bertolak dari analisis akan kebutuhan pangan dunia pada waktu-waktu mendatang. Direktur Jenderal IRRI dalam International Rice Conference di Bali beberapa waktu lalu mengemukakan tentang pentingnya doubly green revolution.
Input teknologi modern hasil perkembangan keilmuan manusia masih saja diperlukan untuk mengatasi kekurangan pangan itu. Ini bukan membesar-besarkan masalah, tetapi memang masalahnya cukup besar.
Pertanian berkelanjutan
Fenomena perpadian kita memang perlu sekali mendapat perhatian semua kita secara lebih intens. Teknis, sosial, ekonomis, politis, semua ada di situ.
Rotasi pertanaman sawah antara padi dan palawija yang bisa menyehatkan tanah lama tidak menjadi anjuran kita demi mengejar produksi beras kita. Padahal, pola itu merupakan pertanian berkelanjutan tradisional kita yang andal.
Sewaktu penduduk negeri ini belum sebesar saat ini, pola itu bersifat sosial-ekonomis yang sehat bagi kehidupan petani. Penanaman pupuk hijau seperti sejenis crotalaria, yang dulu selalu menjadi bahan penyuluhan penyuluh pertanian, puluhan tahun telah kita tinggalkan.
Bahkan, mengelola sawah 2-3 kali setahun menjadi idaman. Namun, seruan kalangan ahli kesuburan tanah untuk memikirkan unsur mikro di sawah dianggap seperti angin lalu saja, semua hanya menargetkan produksi beras.
Mungkin sekarang sudah saatnya untuk memiliki program agropolitik yang berbeda dari yang dulu-dulu. Teknologi modern hendaknya kita terapkan kepada pertanian berkelanjutan di persawahan kita.
Barangkali perlu ada program pembuatan kompos nasional di samping industri-industri kompas di pedesaan kita. Kompos nasional itu kalau bisa didistribusikan gratis kepada petani, di samping anjuran pemupukan inorganik yang wajar. Bagaimanapun, produksi yang tinggi masih kita perlukan. Ini memerlukan ilmu dan teknologi.
Efisiensi petani menggunakan benih dan menerapkan pesemaian kering sungguh menakjubkan. Apalagi beraninya petani menanam satu batang bibit padi umur seminggu di lahannya. Padahal, biasanya ditanam bibit 2-3 batang umur 2-3 minggu sebelum bibit bertunas. Bibit pun tidak ditancapkan dalam-dalam.
Bisa dibayangkan kalau terjadi hujan keras sesudah tanam atau kondisi air di petak sawahnya yang tidak bisa dikontrol kedangkalannya. Sistem hemat air, hemat bibit, hemat waktu ini sungguh memerlukan perhatian petani lebih intens dan tenaga kerja penyiangan gulma yang lebih besar.
Betapapun, kita patut memberikan penghargaan kepada petani yang berusaha keras mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya itu. Dorongan harus kita berikan sehingga timbul selfrespect kepada profesi yang diembannya.
Petani padi kita sebenarnya tidak memerlukan "belas kasihan" atau "perlindungan" pihak lain, apalagi sampai dijadikan "cagar budaya". Harus bisa kita jaga agar pertanian organik di sawah padi kita tidak menjadi antiklimaks yang akan merugikan kita semua.
Sjamsoe’oed Sadjad Pakar Pertanian dari IPB
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment